Artikel
Kepo-Kepo Yuk Soal Si Gigi Susu…
RKZ Surabaya Buka Posko Kesehatan Sekitar Kelud
Influenza Lebih Dari 3 Hari? Saatnya Konsultasi Dokter
Pasien Pilih Sendiri Dokter dan Jadwal Pemeriksaannya
Ibu Bekerja Bisa Memberikan ASI Eksklusif ? Mengapa Tidak?!
Ibu Hamil Juga Bisa Puasa, Asal...
Tepat Minum Obat Puasa Penuh Berkat
“Bingung Atur Obat Diabet Saat Puasa? Ini Tipsnya”
Bidan Betty: Bersama-sama Mencapai Kesehatan Wanita Itu Menyenangkan
Tips Persiapan Vaksinasi (3)
Admin 1
Admin 2
 
Obat Disfungsi VS Pria Lansia?

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2003 terhadap pria berusia 53 – 90 tahun menunjukkan bahwa jumlah kejadian disfungsi ereksi (DE) yang terjadi adalah sekitar 33% dari 31.000 pria yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan yang menjadi subyek penelitian. DE seringkali dikaitkan dengan gejala yang menyertai proses pertambahan usia dari seorang pria, sebenarnya timbulnya DE lebih erat kaitannya dengan status kesehatan pasien, seperti: hipertensi, arteriosklerosis, hiperlipidemia, diabetes melitus, atau gangguan psikiatri serta pengobatan yang diterima pasien dari penyakit tersebut. Apa sebetulnya DE itu? Bagaimana pengobatannya? Bagaimanakah penatalaksanannya disfungsi ereksi pada pria dengan usia lanjut (lansia)? Artikel berikut akan membahas mengenai DE, pengobatan, serta penatalaksanaannya pada lansia.

DE atau Disfungsi Ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi secara konsisten hingga mencapai aktivitas seksual yang memuaskan ketika melakukan hubungan intim. DE berbeda dengan gangguan libido, gangguan ejakulasi, dan infertilitas yang disebabkan oleh karena perbedaan mekanisme patofisiologi. DE yang memiliki angka kejadian rendah pada pria berusia dibawah 40 tahun dan meningkat dengan bertambahnya usia lebih sering terjadi disebabkan karena kondisi medis yang mengganggu aspek vaskuler, neurologik, psikogenik, dan sistem hormon yang berperan dalam ereksi normal.

Berdasarkan faktor penyebabnya, DE dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu:

  • DE Organik, DE yang disebabkan oleh gangguan vaskuler, neurologik, dan sistem hormon (endokrin). Kurang lebih 80% pasien DE memiliki tipe organik.

DE vaskuler biasanya disebabkan karena gangguan arteri atau vena dalam penis. Beberapa kondisi yang berisiko menyebabkan DE vaskuler adalah hiperlipidemia, merokok, diabetes, hipertensi, dan gangguan pembuluh darah tepi. 

DE neurologik biasanya disebabkan karena gangguan sepanjang jalur impuls terjadinya ereksi. Beberapa hal yang biasanya menjadi penyebab terjadinya DE neurologik, antara lain: penggunaan alkohol, gangguan tulang belakang, diabetes, kerusakan saraf, dan trauma.

DE endrokrinologik, DE yang berkaitan dengan gangguan endokrin karena hipogonadisme, hiperprolaktinemia, serta hipo dan hipertiroidisme. Testosteron yang disekresikan sel leydig dibawah pengaruh hormon luteinizing mempengaruhi fungsi seksual. Adanya gangguan endokrin mengakibatkan menurunnya sirkulasi testosteron.

  • DE Psikogenik, DE yang terjadi pada pria yang tidak mampu merespon stimulus (rangsangan). Depresi, kecemasan, stress, hubungan yang bermasalah, rasa bersalah, dan ketakutan saat melakukan hubungan seksual memicu sekresi adrenalin yang menyebabkan vasokonstriksi sehingga ereksi sulit dicapai.


Pada lansia, hambatan untuk melakukan aktivitas seksual tersebut dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Hambatan eksternal, yaitu hambatan yang datang dari lingkungannya. Hambatan ini biasanya berupa pandangan sosial, yang menganggap bahwa aktivitas seksual tidak layak dilakukan lagi oleh lansia. Di institusi seperti panti wreda, hambatannya terutama karena peraturan dan tidak adanya privasi di institusi tersebut.
  2. Hambatan internal, yaitu hambatan dari diri sendiri yang biasanya berkaitan erat dengan kondisi psikologik (psikogenik). Kondisi psikologik sulit dipisahkan secara jelas dengan hambatan eksternal. Pandangan sosial dari lingkungan tentang seksualitas diusia lanjut membuat keinginan dalam diri ditekan sedemikian rupa sehingga memberikan dampak pada ketidakmampuan fisik yang menjadi salah satu pemicu terjadinya DE.


Apa Pengobatan yang Tepat?
Pengobatan DE bertujuan untuk meningatkan kuantitas dan kualitas disfungsi ereksi agar mencapai aktivitas seksual yang memuaskan ketika melakukan hubungan intim. Melalui wawancara mendalam dengan pasien dan pasangannya, Dokter akan mengidentifikasi dan kemudian memberikan pilihan terapi serta edukasi yang sesuai dengan kondisi pasien dan pasangannya. Pengobatan yang ideal untuk terapi DE adalah memiliki waktu kerja yang cepat, efektif, nyaman dalam penggunaan, memiliki harga yang terjangkau, dan tidak memiliki interaksi obat. Terapi DE dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

Terapi Non Farmakologi

  1. Perubahan gaya hidup, seperti: mengatasi hambatan psikologi (psikogenik), berhenti merokok, tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan, diet rendah kolesterol, dan mengurangi dosis atau berhenti menggunakan obat-obatan yang mempengaruhi fungsi sekual.
  2. Penggunaan alat vakum, alat vakum lebih diperuntukkan bagi pasien yang tidak menginginkan terapi farmakologi atau penggunaan obat dikontraindikasikan. Penggunaan alat vakum dikontraindikasikan pada pasien dengan  sickle cell disease dan harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang mengonsumsi obat antikoagulan oral (warfarin).
  3. Pembedahan, bermanfaat bagi pasien muda dengan insufisiensi vaskuler.
  4. Implantasi Penis Buatan (Penile Prosthesis), dilakukan bagi pasien yang gagal menjalani terapi farmakologi dan membutuhkan solusi permanen untuk mengobati DE yang dialaminya.

Terapi Farmakologi

 

Sama halnya dengan pengobatan DE pada pasien muda, pemeriksaan DE pada lansia juga membutuhkan pemeriksaan yang rinci antara pasien dengan pasangannya. Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan jenis dan intensitas gangguan yang dirasakan, kondisi kesehatan (jantung, hati, ginjal, dan paru-paru), obat-obatan yang dikonsumsi, serta status endokrin dan metabolik (gula darah, status gizi, dan status hormonal) pasien. Pengobatan DE pada pasien lansia perlu memperhatikan hal-hal tersebut karena terapi yang dipilih selain bersifat sangat individual, juga perlu memperhatikan kemungkinan munculnya interaksi dengan obat ataupun penyakit yang diderita pasien.

Di Posting oleh :

M.Ch. Reza Kartika, S. Farm., Apt. (Kepala Unit Farmasi Klinis RKZ Surabaya)

 

Referensi:

  • DiPiro, J. T. et al, 2008, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Seventh Edition, The McGraw-Hill Companies, USA
  • European Association of Urology, 2005, Guidelines on Erectile Dysfunction diakses dari http://www.uroweb.org/fileadmin/user_upload/Guidelines/2005ErectileDysfunction.pdf
  • American Urological Association Education and Research, 2006, The Management of Erectile Dysfunction: an update. (2) 2006 addendum, diakses dari http://www.guideline.gov/summary 
  • Montessori, M., 2009, Seksualitas pada Lansia, diakses dari http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/09/30/seksualitas-pada-lansia-3/
     


Tentang RKZ Layanan Informasi Berita & Kegiatan Direktori Kontak Kami
© 2009-2014 RSK. St. Vincentius a Paulo (RKZ Surabaya). All rights reserved. Developed by SolindoWeb