Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak termasuk kondisi yang umum dijumpai pada laki-laki lanjut usia. Bila tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat berujung pada hambatan aliran urin yang keluar dari kandung kemih.1
Fungsi prostat
Prostat adalah kelenjar pada pria yang terletak di bawah kandung kemih dan di sekitar uretra (saluran yang berfungsi mengalirkan urine dari kandung kemih ke luar tubuh). Prostat berfungsi untuk memproduksi cairan yang menutrisi dan melindungi sperma. Cairan ini akan bercampur dengan sel sperma dari testis sehingga membentuk air mani. Otot-otot prostat juga berperan menekan air mani dengan kuat ke dalam uretra saat ejakulasi. Ukuran prostat normal adalah 15-25 ml dan dapat membesar seiring bertambahnya usia akibat perubahan hormonal.2

Definisi BPH
Pembesaran prostat jinak (BPH) adalah kondisi pertumbuhan jaringan prostat yang bersifat tidak ganas. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan ukuran kelenjar prostat yang menekan uretra dan menyebabkan sumbatan aliran urin. Akibatnya, muncul berbagai manifestasi klinis berupa gejala saluran kemih bagian bawah.1
Perlu diketahui bahwa BPH tidak akan berkembang menjadi kanker prostat. Prevalensi BPH meningkat seiring bertambahnya usia, umumnya mulai terjadi pada usia 40–45 tahun, meningkat hingga sekitar 60% pada usia 60 tahun, dan mencapai 80% pada usia di atas 70 tahun.¹
Penyebab BPH
Penyebab pasti BPH belum diketahui, namun beberapa faktor risiko berikut berkontribusi pada perkembangan BPH.3
Usia dan faktor genetik
Seiring bertambahnya usia, gangguan keseimbangan hormon serta proses pertumbuhan dan kematian (apoptosis) sel prostat menyebabkan jumlah sel prostat meningkat. Penuaan juga sering disertai peradangan dan gangguan aliran darah di pembuluh darah kecil yang menyebabkan kekurangan oksigen dan stres oksidatif yang mendukung pertumbuhan prostat. Faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko BPH hingga 72% pada laki-laki lanjut usia.
Hormon
Hormon androgen berupa testosteron dan turunannya yaitu dihidrotestosteron (DHT) berperan penting dalam pertumbuhan dan fungsi prostat. Di dalam prostat, testosteron diubah menjadi DHT oleh enzim 5α-reduktase. DHT inilah yang berperan dalam pengaturan pertumbuhan dan kematian sel-sel prostat. Pada pasien dengan BPH
Faktor pertumbuhan (growth factors)
Beberapa zat seperti epidermal growth factor, fibroblast growth factor, dan transforming growth factor-β ditemukan di jaringan prostat. Zat-zat ini dapat merangsang pembelahan dan pertumbuhan sel, sehingga menyebabkan pembesaran prostat.
Sindrom metabolik, gaya hidup, dan obesitas
Laki-laki dengan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol baik (HDL) rendah, atau obesitas umumnya memiliki ukuran prostat lebih besar. Gaya hidup tidak sehat seperti perokok berat, konsumsi alkohol berlebihan, atau kurang olahraga juga dapat meningkatkan risiko BPH.
Gejala BPH
Gejala utama BPH adalah gangguan berkemih dan dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:2
- Iritasi (keluhan akibat gangguan pada pengisian urin di kandung kemih)
- Frekuensi buang air kecil meningkat
- Sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil (nokturia)
- Timbul rasa ingin buang air kecil mendadak dan sulit untuk ditahan (urgensi)
- Mengompol
- Obstruksi (keluhan yang terjadi saat berkemih)
- Pancaran urin lemah dan terputus-putus
- Harus mengejan untuk buang air kecil
- Harus menunggu sebelum mulai berkemih
- Butuh waktu lama untuk berkemih
- Gangguan pasca berkemih
- Rasa tidak tuntas saat buang air kecil
- Urin menetes setelah selesai buang air kecil
Pengobatan BPH
Tujuan pengobatan BPH adalah memperbaiki kualitas hidup pasien melalui pemberian terapi sesuai derajat keluhan dan keadaan pasien. Pilihan jenis terapi BPH yaitu:
Konservatif
Terapi konservatif ditujukan bagi pasien dengan gejala BPH ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien akan dianjurkan untuk melakukan modifikasi gaya hidup dan diberikan penjelasan terkait hal-hal yang mungkin dapat memperbaiki atau memperburuk keluhan, misalnya:1,4
- Hindari minum air banyak sebelum tidur.
- Membatasi konsumsi minuman mengandung kafein, alkohol, atau coklat karena dapat meningkatkan produksi urin, memperberat frekuensi berkemih, urgensi, dan nokturia.
- Gunakan teknik double-voiding, yaitu buang air kecil hingga tuntas sebanyak 2 kali dengan jarak 5 menit untuk memastikan kandung kemih kosong.
- Lakukan milking urethra, yaitu mengurut pangkal penis ke arah ujung penis untuk mencegah tetesan urin pasca berkemih.
- Melatih kandung kemih dengan menahan rasa buang air kecil untuk menambah kapasitas kandung kemih.
Terapi Obat
Terapi obat diberikan bagi pasien BPH dengan gejala sedang hingga berat yang mengganggu aktivitas dan tindakan konservatif tidak berhasil atau tidak dapat dilakukan. Jenis obat yang tepat akan ditentukan Dokter berdasarkan hasil konsultasi. Berikut jenis obat untuk BPH:1,4
α1-blocker
Obat golongan ini dapat mengurangi gejala gangguan berkemih, namun tidak mengurangi volume prostat maupun risiko retensi urine dalam jangka panjang. Dalam penggunaan klinis, α1-blocker dapat dikombinasi dengan golongan 5α-reduktase inhibitor atau anti muskarinik untuk mendapatkan efek sinergis dengan menggabungkan manfaat yang berbeda dari kedua golongan obat tersebut sehingga meningkatkan efektivitas dalam memperbaiki gejala dan mencegah perkembangan penyakit.
| Mekanisme | : | Obat golongan ini bekerja dengan cara merelaksasi otot polos prostat, leher kandung kemih, dan uretra sehingga aliran urin lebih lancar. Efek maksimal biasanya dirasakan setelah 72 jam. |
| Contoh obat | : | Tamsulosin, Doxazosin, Terazosin, Silodosin |
| Aturan pakai | : | Penggunaan 1 kali sehari. |
| Efek samping | : | Pusing, tekanan darah rendah, gangguan ejakulasi, atau Floppy Iris Syndrome (masalah pada otot iris mata) sehingga harus hati-hati pada pasien yang akan menjalani operasi katarak dan glaukoma. |
5α-reduktase inhibitor (5-ARI)
Obat golongan ini dapat dipertimbangkan pada pasien BPH dengan volume prostat >30 ml.
| Mekanisme | : | Menghambat perubahan hormon testosteron menjadi dihidrotestosteron di dalam kelenjar prostat. Akibatnya, sel-sel prostat mengecil dan sebagian sel mengalami kematian alami (apoptosis). Hal ini menyebabkan ukuran prostat mengecil, namun umumnya efek maksimal dicapai dalam waktu sekitar 6 bulan. |
| Contoh obat | : | Dutasteride, Finasteride |
| Aturan pakai | : | Penggunaan 1 kali sehari |
| Efek samping | : | Disfungsi ereksi, penurunan libido, gangguan ejakulasi, penurunan volume air mani, ginekomastia (pembesaran jaringan payudara pada pria), dan timbul bercak-bercak kemerahan pada kulit. |
Anti muskarinik
Obat anti muskarinik digunakan untuk memperbaiki gejala akibat gangguan pada pengisian urin di kandung kemih.
| Mekanisme | : | Mengurangi kontraksi otot polos kandung kemih. |
| Contoh obat | : | Solifenacin succinate, Tolterodine L-tartrate |
| Aturan pakai | : | Penggunaan 1 kali sehari untuk Solifenacin succinate dan 2 kali sehari untuk Tolterodine L-tartrate |
| Efek samping | : | Mulut kering, konstipasi, nasofaringitis, dan pusing. |
Beta 3 agonis
Obat golongan ini dapat memperbaiki gejala frekuensi, urgensi, nokturia, serta memperbaiki volume berkemih.
| Mekanisme | : | Mengurangi kontraksi otot polos kandung kemih. |
| Contoh obat | : | Mirabegron |
| Aturan pakai | : | Penggunaan 1 kali sehari |
| Efek samping | : | Hipertensi, nyeri kepala, infeksi saluran kemih, dan keluhan saluran pernapasan. |
Phospodiesterase 5 inhibitor (PDE-5 Inhibitor)
| Mekanisme | : | Mengurangi kontraksi otot polos prostat dan kandung kemih. |
| Contoh obat | : | Tadalafil |
| Aturan pakai | : | Penggunaan 1 kali sehari |
| Efek samping | : | Dispepsia, sakit kepala, nyeri punggung, dan hidung tersumbat. |
Pembedahan
Tindakan pembedahan dilakukan bila terapi obat-obatan tidak lagi efektif atau muncul komplikasi seperti:1,4
- Tidak bisa buang air kecil atau pengosongan kandung kemih tidak tuntas
- Infeksi saluran kemih berulang
- Kencing bernanah berulang
- Batu kandung kemih
- Kencing berdarah
- Gagal ginjal
Terdapat berbagai jenis metode pembedahan, namun yang paling sering dilakukan adalah transurethral resection of the prostate (TURP). TURP merupakan teknik pembedahan minimal invasif yang bertujuan untuk membuang bagian prostat yang menyebabkan keluhan. Selain TURP, jenis tindakan pembedahan lainnya adalah vaporisasi prostat dan enukleasi prostat.1,4
Temukan solusi terbaik untuk keluhan BPH Anda bersama dokter spesialis Urologi RKZ Surabaya. Dapatkan layanan komprehensif mulai dari konsultasi, pemeriksaan laboratorium dan radiologi, hingga tindakan pembedahan TURP dengan perawatan profesional dan terpercaya.
Lihat Jadwal Praktik Dokter Spesialis Urologi: https://rkzsurabaya.com/dokter-spesialis-urologi/

Daftar pustaka
- Ng, M., Stephen W., dan Krishna M.B., 2024, Benign Prostatic Hyperplasia, National Library of Medicine, tersedia dalam https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558920/
- Ikatan Ahli Urologi Indonesia, 2025, Pembesaran Prostat Jinak, tersedia dalam https://iaui.or.id/public-section/article_bph
- Lee, C.K., Kuo, Hann-Chorng, 2017, Pathophysiology of benign prostate enlargement and lower urinary tract symptoms, Tzu Chi Medical Journal 29(2): p 79-83, tersedia dalam https://journals.lww.com/tcmj/fulltext/2017/29020/pathophysiology_of_benign_prostate_enlargement_and.3.aspx
- Ikatan Ahli Urologi Indonesia, 2021, Panduan Penatalaksanaan Klinis Pembesaran Prostat Jinak (Benigan Prostatic Hyperplasia/ BPH), tersedia dalam: https://iaui.or.id/uploads/guidelines/2021_PPK_PEMBESARAN_PROSTAT_JINAK_BPH.pdf