Osteoporosis: Kenali Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

Revisi: 6 menit baca
Osteoporosis: Kenali Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

Osteoporosis (tulang keropos) adalah kondisi ketika tulang menjadi rapuh dan mudah patah (fraktur) akibat penurunan massa dan kepadatan tulang. Penyakit ini sering disebut “silent disease” karena berkembang tanpa gejala hingga pasien mengalami patah tulang. Fraktur dapat terjadi secara tiba-tiba, bahkan ketika melakukan aktivitas ringan, seperti membungkuk, mengangkat, atau batuk. Oleh karena itu, penting untuk mengenali risiko osteoporosis sejak dini.1,2

Penyebab Osteoporosis

Osteoporosis terjadi akibat ketidakseimbangan antara proses pembentukan sel tulang baru dan pembongkaran sel tulang lama.

Proses Perbaikan dan Pembaruan Tulang Manusia3

Kerangka tubuh manusia terus menjalani perbaikan dan pembaruan yang terdiri dari 2 tahap utama, yaitu:

  1. Resorpsi tulang (penguraian dan pembuangan). Selama proses ini, sel-sel pada permukaan tulang (osteoklas) akan melarutkan jaringan tulang dan melepaskannya ke dalam aliran darah, sehingga menghasilkan rongga-rongga kecil di tulang.
  2. Pembentukan tulang baru oleh sel osteoblas akan mengisi rongga-rongga yang terbentuk pada tahap resorpsi dengan jaringan tulang baru.

Pada tulang yang sehat, proses resorpsi dan pembentukan berjalan seimbang. Namun, seiring dengan pertambahan usia, proses tersebut dapat terganggu, sehingga pembuangan tulang lama lebih banyak dibandingkan pembentukan tulang baru. Akibatnya, tulang menjadi lebih lemah dan rentan terhadap fraktur.

Faktor Risiko Osteoporosis1,4

Usia

Puncak kekuatan dan ketebalan tulang tercapai pada usia sekitar 20 tahun. Setelah usia 35 tahun, kepadatan tulang mulai menurun secara bertahap. Proses ini wajar terjadi pada semua orang. Namun, beberapa orang mengalami kehilangan massa tulang dan osteoporosis lebih cepat dari biasanya. Kelompok ini berisiko lebih tinggi mengalami fraktur.

Jenis kelamin

Wanita lebih berisiko mengalami pengeroposan tulang karena perubahan hormon estrogen yang terjadi pada masa menopause. Hormon estrogen sangat penting bagi kesehatan tulang. Wanita yang mengalami menopause dini (sebelum usia 45 tahun), menjalani pengangkatan rahim sebelum usia 45 tahun, serta tidak menstruasi lebih dari 6 bulan akibat olahraga berlebihan atau diet yang terlalu ketat berisiko lebih besar untuk mengalami osteoporosis.

Selain itu, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang, sebagai berikut:

  • Riwayat keluarga mengalami pengeroposan tulang
  • Riwayat orang tua mengalami patah tulang panggul
  • Ukuran tubuh kecil (BMI <19 kg/m2)
  • Penggunaan steroid dosis tinggi jangka panjang (> 3 bulan)
  • Penggunaan obat-obatan yang memengaruhi kadar hormon
  • Mengalami gangguan makan, seperti anoreksia atau bulimia
  • Kurang berolahraga
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol berlebih
  • Kekurangan asupan kalsium dan vitamin D
  • Mengalami masalah kesehatan, seperti gangguan produksi hormon, malabsorpsi

Gejala Osteoporosis

Seringkali tidak memiliki gejala hingga terjadi fraktur. Gejala dan tanda fraktur yang dapat dirasakan pasien, seperti:5,6

  • Nyeri punggung atau area yang patah
  • Perubahan bentuk tulang
  • Perubahan postur seperti pembungkukan atau penurunan tinggi badan

Diagnosis Osteoporosis

Kondisi ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD).

Pemeriksaan ini direkomendasikan bagi wanita berusia di atas 65 tahun dan pria di atas 70 tahun, serta orang-orang dengan faktor risiko osteoporosis, osteopenia, atau penyakit tulang lainnya.

Hubungi Radiologi RKZ Surabaya untuk reservasi pemeriksaan BMD melalui nomor berikut: wa.me/+628113547868

Pengobatan Osteoporosis

Tujuan pengobatan osteoporosis adalah memperkuat tulang dan mengurangi kemungkinan fraktur. Hal ini dilakukan dengan memperlambat resorpsi menggunakan obat antiresorptif atau meningkatkan pembentukan tulang dengan menggunakan obat anabolik.3,7

Obat Antiresorptif

  • Bisphosphonates

Contoh: Alendronate (oral), Ibandronate (oral, injeksi), Risedronate (oral), Zoledronic acid (injeksi).

  • RANK Ligand inhibitor

Contoh: Denosumab (injeksi).*

  • Estrogen (Terapi Hormon)

Contoh: Estrogen (oral, patch transdermal).

  • Calcitonin analogs

Contoh: Calcitonin-Salmon (injeksi dan semprot hidung).

  • Selective Esterogen Receptor Modulators (SERMs)

Contoh: Raloxifene (oral).

  • Tissue Specific Estrogen Complex (TSEC)

Contoh: Conjugated estrogens/ Bazedoxifene (oral).*

Obat Anabolik

  • Sclerostin inhibitors

Contoh: Romosozumab-aqqg (injeksi).*

  • Parathyroid hormone (PTH) analogs

Contoh: Teriparatide (injeksi).*

  • Parathyroid hormone-related protein (PTHrp) Analog

Contoh: Abaloparatide (injeksi).*

*Belum tersedia di Indonesia

Obat-obat tersebut tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet harian hingga injeksi yang digunakan setahun sekali. Tidak ada obat yang paling baik untuk semua orang. Pemilihan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk riwayat kesehatan dan pilihan pasien. Diskusikan manfaat dan risiko pengobatan dengan tenaga kesehatan profesional kami.

Pencegahan Osteoporosis

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan yang dapat sepenuhnya menggantikan massa tulang yang telah hilang. Oleh karena itu, penting untuk memulai menjaga kesehatan tulang sejak dini.1

Konsumsi Makanan Tinggi Kalsium

Asupan Kalsium yang cukup diperlukan untuk menjaga kekuatan tulang. Pria dan wanita usia 19-50 tahun membutuhkan Kalsium setidaknya 1000 mg/hari dan meningkat menjadi 1200-1500 mg/hari setelah usia 50 tahun. Selain suplemen, sumber Kalsium juga dapat diperoleh dari berbagai makan, seperti:

  • Produk susu: Yogurt dan keju
  • Makanan olahan kedelai: Tahu, tempe, tofu
  • Ikan sarden
  • Sayuran hijau, seperti brokoli dan sawi
  • Jus jeruk dan sereal yang telah diperkaya Kalsium

Suplementasi Vitamin D

Vitamin D berperan penting dalam meningkatkan penyerapan Kalsium yang mendukung kesehatan tulang. Kebutuhan harian Vitamin D pada pria dan wanita di bawah 50 tahun adalah 400-1000 IU/hari, sedangkan untuk usia 50 tahun ke atas meningkat menjadi 800-1000 IU/hari.8 Terpapar sinar matahari selama 5-15 menit/hari juga dapat membantu memenuhi kebutuhan Vitamin D. Waktu berjemur yang disarankan adalah sejak matahari terbit hingga jam 09.00 dan sore jam 15.00 sampai matahari terbenam.9

Kecukupan kadar Vitamin D dalam tubuh dapat diketahui melalui pemeriksaan darah. Anda dapat melakukan pemeriksaan kadar Vitamin D di Laboratorium RKZ Surabaya.

Berolahraga secara Teratur

Seperti halnya otot, tulang juga membutuhkan latihan agar tetap kuat. Latihan beban selama 30 menit, 3-4 kali seminggu perlu dicapai untuk membantu membangun sel tulang yang lebih banyak dan menjadikannya kuat.

Olahraga yang disarankan, antara lain jalan cepat, joging, mendaki, tenis atau olahraga raket lainnya, menari, dan aerobik. Meskipun berenang dan bersepeda tidak termasuk latihan beban, kedua olahraga ini tetap bermanfaat sebagai alternatif jika Anda memiliki kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk latihan beban.

Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Hindari rokok dan batasi konsumsi alkohol yang dapat mengurangi penyerapan Kalsium dan memengaruhi keseimbangan hormon yang penting untuk kesehatan tulang.

Menjaga kesehatan tulang sejak dini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup yang lebih baik. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis jika Anda memiliki risiko atau gejala yang berkaitan dengan osteoporosis.

Baca juga artikel mengenai Pembesaran Prostat https://rkzsurabaya.com/2025/11/25/pembesaran-prostat-bph-apakah-berbahaya/

Referensi:

1.         American Academy of Orthopaedic Surgeons. Osteoporosis. (2019).

2.         Food and Drug Administration. Osteoporosis. https://www.fda.gov/consumers/womens-health-topics/osteoporosis (2024).

3.         Bone Health and Osteoporosis Foundation. Medicines for Prevention and Treatment. https://www.bonehealthandosteoporosis.org/patients/treatment/medicationadherence/ (2023).

4.         National Health Service. Osteoporosis. https://www.nhs.uk/conditions/osteoporosis/treatment/ (2022).

5.         Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2171/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Osteoporosis. (2023).

6.         Mayo Clinic. Osteoporosis. Mayo Foundation for Medical Education and Research https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968 (2024).

7.         National Osteoporosis Foundation. Osteoporosis Medicines. (2019).

8.         Hanley, D., Cranney, A., Jones, G. & Whiting, S. Vitamin D in adult health and disease: a review and guideline statement from Osteoporosis Canada (summary). Can. Med. Assoc. J. 182, 1315–1319 (2010).

9.         Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cukup vitamin D dan sinar matahari agar mencapai kepadatan tulang yang optimal. https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-gangguan-metabolik/cukup-vitamin-d-dan-sinar-matahari-agar-mencapai-kepadatan-tulang-yang-optimal (2018).

apt. Novita Hendriyadi, S.Farm., M.Farm.
Artikel kesehatan dari tim RKZ Surabaya

Rekomendasi untuk Anda