Sirosis merupakan penyakit hati kronis yang ditandai dengan pembentukan jaringan fibrosis dan nodul abnormal di permukaan hati akibat infeksi virus (hepatitis B, C, atau D), toksin (alkohol, obat), genetik, autoimun, atau penyebab yang tidak diketahui.1

Kategori
Sirosis dikategorikan menjadi 2 berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu:1
- Terkompensasi, umumnya tidak bergejala atau bergejala ringan
- Dekompensasi, ditandai munculnya manifestasi klinis akibat disfungsi sel hati maupun hipertensi portal, berupa asites, ikterus, ensefalopati hepatik, peritonitis bakterial spontan, pendarahan varises gastroesofageal, dan sindrom hepatorenal.
Keparahan sirosis dapat dinilai dengan sistem skor Child-Pugh-Turcotte (CPT) dan diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:2
- Kategori A: tanpa komplikasi atau disebut sirosis terkompensasi (total skor 5-6)
- Kategori B: kompromi fungsional signifikan (total skor 7-9)
- Kategori C: muncul komplikasi atau disebut sirosis dekompensasi (total skor 10-15)
Kalkulator perhitungan skor CPT : https://www.msdmanuals.com/professional/multimedia/clinical-calculator/child-pugh-classification-for-severity-of-liver-disease
Komplikasi dan Pengobatannya
Pengobatan sirosis bertujuan untuk:1
- Mencegah perburukan dan kerusakan hati lebih lanjut.
- Mencegah dan mengatasi komplikasi yang terjadi.
- Mencegah dan mengatasi karsinoma sel hati yang dapat muncul sewaktu-waktu.
Hipertensi Portal
Hipertensi portal terjadi akibat penekanan pembuluh darah vena di hati oleh jaringan fibrosis sehingga aliran darah tersumbat. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan portal serta terbentuknya varises esofagus. Pasien sirosis dengan hipertensi portal signifikan secara klinis/Clinically Significant Portal Hypertension (CSPH) berisiko mengalami pendarahan varises, asites, dan ensefalopati. Kondisi CSPH dapat ditandai dengan peningkatan tekanan vena porta (HVPG ≥10 mmHg) atau adanya varises gastroesofagus pada pemeriksaan endoskopi.1,3,4
Pengobatan
Obat golongan non-selective beta blocker (NSBB) berupa Carvedilol, Propranolol, dan Nadolol merupakan terapi lini pertama pencegahan pendarahan varises. Obat golongan ini bekerja dengan menurunkan tekanan vena porta, sehingga aliran darah menuju ke hati berkurang. Carvedilol merupakan NSBB generasi baru yang juga memiliki efek anti-α1-adrenergik, sehingga memiliki efek penurunan tekanan portal lebih kuat dibanding Propranolol.3
Tabel 1. Tatalaksana hipertensi portal berdasarkan tingkat keparahannya1,3,4
| Kondisi | Rekomendasi |
| Sirosis kompensasi tanpa CSPH | NSBB tidak direkomendasikan karena tidak mengurangi insiden terbentuknya varises baru, pendarahan varises, atau gejala klinis sirosis dekompensasi. Modifikasi gaya hidup (nutrisi adekuat, berat badan normal, menghindari alkohol) dan mengatasi penyebab gangguan liver diprioritaskan sebagai pencegahan CSPH dan dekompensasi. |
| Sirosis kompensasi dengan CSPH atau sirosis dekompensasi | NSBB direkomendasikan sebagai pencegahan primer pada pasien berisiko tinggi mengalami pendarahan varises, yaitu: Varises berukuran sedang/besar (>5 mm)Varises kecil dengan tanda pendarahan (garis kemerahan memanjang pada permukaan)Skor CPT kategori C Endoscopic variceal ligation (EVL) direkomendasikan pada pasien dengan risiko tinggi pendarahan varises dan tidak dapat menerima NSBB. |
| Pasca pendarahan varises | Kombinasi NSBB dan EVL direkomendasikan sebagai pencegahan sekunder karena dapat menurunkan risiko pendarahan berulang dibandingkan monoterapi. NSBB dapat dimulai 5 hari setelah pendarahan terkontrol. |
Dosis NSBB:1,3
- Carvedilol: dosis awal 3,125 mg 2 kali sehari, setelah 3 hari ditingkatkan menjadi 6,25 mg 2 kali sehari (maksimal 12,5 mg/hari).
- Propranolol: 20 – 40 mg 2 kali sehari, dapat ditingkatkan setiap 2-3 hari (maksimal 320 mg/hari jika tanpa asites/asites ringan dan 160 mg/hari jika pasien mengalami asites berat).
- Nadolol: 20 – 40 mg 1 kali sehari, dapat ditingkatkan setiap 2-3 hari (maksimal 160 mg/hari jika tanpa asites/ asites ringan dan 80 mg/hari jika pasien mengalami asites berat).
Monitoring: target frekuensi denyut jantung saat istirahat 55-60 kali/menit dan tekanan darah sistolik tidak <90 mmHg.1,3
Efek samping: hipotensi, sesak nafas, kelelahan (fatigue), bronkokonstriksi, dan gagal jantung.1,3
Kontraindikasi: asma, atrioventricular block derajat 2 dan 3, bradikardi (nadi <50 kali per menit).1,3
Pendarahan Varises
Pendarahan varises ditandai dengan hematemesis atau melena. Terapi dengan agen vasoaktif selama 2-5 hari dan antibiotik profilaksis (lihat bagian Spontaneus Bacterial Peritonitis) harus segera diberikan untuk mengembalikan stabilitas hemodinamik.1,4
Pilihan agen vasoaktif:1,4
- Octreotide dosis awal 50 mcg secara IV bolus, dilanjutkan 50 mcg/jam secara infus kontinyu.
- Somatostatin dosis awal 250 mcg secara IV bolus 3-5 menit, dilanjutkan 250-500 mcg/jam secara infus kontinyu.
- Terlipresin dosis 2 mg tiap 4 jam secara IV bolus selama 48 jam pertama atau hingga hemostasis tercapai, diikuti dosis 1 mg tiap 4 jam secara IV bolus.
Asites
Asites merupakan akumulasi cairan pada rongga peritoneal yang disebabkan karena retensi natrium serta peningkatan tekanan sinusoid (pembuluh darah kecil di hati) akibat hipertensi portal.1,5
Strategi tatalaksana asites adalah sebagai berikut: 1,5
Restriksi Natrium
Pembatasan asupan Natrium antara 80–120 mmol/hari setara dengan 4,6–6,9 gram/hari.
Terapi diuretik
Tujuannya adalah pencapaian balans cairan negatif yang mengacu pada penurunan berat badan <0,5 kg/hari untuk pasien tanpa edema perifer dan <1 kg/ hari untuk pasien dengan edema perifer.
Pilihan diuretik berupa Spironolactone tunggal atau dikombinasi dengan Furosemide.
- Dosis Spironolactone: 50-100 mg/hari dapat ditingkatkan hingga maksimum 400 mg/hari
- Dosis Furosemide: 40 mg/hari dapat ditingkatkan hingga maksimum 160 mg/hari.
Kombinasi Spironolactone dan Furosemide direkomendasikan pada pasien dengan asites rekuren atau edema perifer. Bila asites belum terkontrol, dosis kombinasi dapat ditingkatkan secara bertahap dengan rasio 1:1 tiap 3-5 hari hingga dosis maksimum. Bila asites telah terkontrol, dosis diuretik dapat diturunkan secara bertahap untuk meminimalkan efek samping.
Parasentesis
Prosedur ini direkomendasikan pada pasien asites besar. Setelah prosedur parasentesis >5 liter, pemberian Albumin 20% atau 25% dengan dosis 8 g Albumin/liter cairan asites yang dikeluarkan disarankan untuk mencegah disfungsi sirkulasi pasca parasentesis.
Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP)
Infeksi bakteri pada cairan asites tanpa sumber infeksi yang jelas sering ditemukan pada pasien sirosis dengan asites.
Terapi profilaksis
Tabel 2. Pilihan Terapi Profilaksis SBP1,5
| Indikasi | Rekomendasi | Alternatif | Durasi |
| Profilaksis sekunder (pernah mengalami SBP) | Ciprofloxacin 500 mg tiap 24 jam PO | Trimethoprim 160 mg Sulfamethoxazole 800 mg (1 tablet double strength) tiap 24 jam per oral | Hingga asites teratasi |
| Profilaksis primer pada pasien sirosis berisiko tinggi SBP* | |||
| Pasien dengan pendarahan gastrointestinal akut dan sirosis berat | Ceftriaxone 1 g tiap 24 jam IV | Transisi ke antibiotik oral jika pendarahan berhenti dan asupan oral adekuat: Ciprofloxacin 500 mg tiap 12 jam per oral atau Trimethoprim Sulfamethoxazole 1 tablet double strength tiap 12 jam per oral | Total 7 hari (kombinasi IV dan oral). |
*Total protein cairan asites <1,5 g/dl, gangguan ginjal (serum creatinin >1,2 mg/dl, BUN >25 mg/dl, atau serum sodium <130 mEq/L) atau gangguan hepar (skor CPT >9 dan bilirubin >3 mg/dl).
Terapi empiris
Terapi antibiotik empiris harus diberikan segera setelah diagnosis SBP ditegakkan, yaitu ditemukan jumlah leukosit polymorphonuclear (PMN) cairan asites >250/mm3. Terapi standar berupa Cefotaxime 2 g tiap 8 jam IV atau Ceftriaxone 2 g tiap 24 jam IV selama 5-7 hari. Pasien dengan kondisi sepsis atau berisiko Multidrug Resistant Organism (MDRO) memerlukan antibiotik spektrum luas seperti Piperacillin-Tazobactam atau Carbapenem.1,5
Selain terapi antibiotik, pemberian Albumin intravena konsentrasi 20% atau 25% dengan dosis 1,5 g/kg pada hari pertama diikuti dengan dosis 1 g/kg pada hari ketiga direkomendasikan untuk menurunkan kejadian sindrom hepatorenal serta angka mortalitas.
Sindrom hepatorenal
Sindrom hepatorenal merupakan jenis gagal ginjal akut yang rentan terjadi pada pasien sirosis dekompensasi dan asites. Kombinasi obat vasokonstriktor dan Albumin intravena dosis 1 g/kg selama 2 hari (maksimum 100 g/hari), diikuti dengan dosis 20 – 50 g/hari direkomendasikan untuk mencapai target penurunan nilai serum kreatinin <1,5 mg/dl atau durasi maksimal 14 hari terapi.1,5,6
Rekomendasi dosis obat vasokonstriktor:1,5,6
- Terlipresin dosis awal 1 mg secara IV bolus tiap 6 jam atau 2 mg/24 jam secara IV kontinyu. Bila penurunan serum kreatinin belum mencapai 25% setelah 2 hari, dosis Terlipresin dapat ditingkatkan hingga maksimum 2 mg tiap 4-6 jam secara IV bolus atau 12 mg/24 jam secara IV kontinyu.
- Norepinephrine bitartrate dosis awal 5-8 mcg/menit dapat ditingkatkan tiap 4 jam. Dosis maksimum 10 mcg/menit untuk pasien non ICU dan 50 mcg/menit untuk pasien ICU.
Hepatic Encephalopathy (HE)
HE adalah sindrom gangguan fungsi otak (bersifat reversibel) akibat penumpukan amonia dalam darah. Amonia merupakan toksin yang diproduksi oleh bakteri di usus. Dalam kondisi normal amonia akan dimetabolisme oleh hepar, sedangkan pada kondisi sirosis dan hipertensi portal metabolisme amonia terganggu sehingga terjadi penumpukan amonia. Pemberian terapi pada kondisi HE bertujuan untuk menurunkan jumlah amonia dalam darah.1,5,6
Lactulose
Lactulose merupakan terapi lini pertama untuk mengurangi produksi dan penyerapan amonia di usus. Dosis: 30 – 45 ml (20-30 g) sirup Lactulose setiap 1-2 jam untuk mencapai 2 feses lembek per hari. Selanjutnya Lactulose diberikan 2-4 kali per hari untuk mencapai 2-3 feses per hari. 1,5,6
Probiotik
Probiotik mengubah flora usus menjadi flora yang tidak tahan asam dan tidak menghasilkan urease sehingga mengurangi produksi dan penyerapan amonia. Jenis flora usus yang paling bermanfaat dalam terapi HE adalah Lactobacilli dan Bifidobacterial. 1,5
Antibiotik
Pemberian antibiotik yang memiliki aktivitas terhadap bakteri usus penghasil urease dapat dikombinasi dengan Lactulose untuk menurunkan amonia. Contoh antibiotik: Rifaximin (belum tersedia di Indonesia) dosis 550 mg tiap 12 jam atau 400 mg tiap 8 jam PO.1
Ammonia Scavenging Agents
L-ornithine L-aspartate (LOLA) menstimulasi siklus urea sehingga mengurangi jumlah amonia dalam darah dan memperbaiki status mental pasien. Dosis IV: 20-30 g per hari selama 3-7 hari, dapat ditingkatkan hingga 40 g per hari pada kondisi berat. Dosis oral: 3-6 g (1-2 sachet) 3 kali per hari.1,6
Tabel 3. Penggolongan Hepatic Encephalopathy
| Tingkat | Tingkat kesadaran | Sifat/kecerdasan | Abnormalitas neurologis |
| 0 | Normal | Normal | Tidak ada |
| Minimal | Normal | Normal | Hanya psikologis |
| 1 | Pola tidur yang terbalik/gelisah | Pelupa, kebingungan ringan, agitasi, mudah tersinggung | Gemetar, inkoordinasi, gangguan dalam menulis |
| 2 | Lesu, respon lambat | Disorientasi waktu, amnesia, perilaku yang tidak biasa | Asterixis, dysarthria ataxia, refle hipoaktif |
| 3 | Mengantuk tapi dapat dibangunkan, bingung | Disorientasi tempat, agresif | Asterixis, reflek hiperaktif, tanda Babinski, kekakuan otot |
| 4 | Koma/tidak dapat dibangunkan | Tidak ada | Decerebate |
Daftar Pustaka
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/778/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tatalaksana Sirosis Hati pada Dewasa.
- UpTodate,Inc., 2026, Child Pugh Classification of Severity of Cirrhosis, Tersedia di: https://www.uptodate.com/contents/image?imageKey=GAST%2F78401
- Sanyal, A.J, Juan C., 2026, Primary Prevention of Bleeding from Esophageal Varices in Patients With Cirrhosis, UpToDate, Inc. Tersedia di https://www.uptodate.com/contents/primary-prevention-of-bleeding-from-esophageal-varices-in-patients-with-cirrhosis/print
- David, K.E, et. al, 2024, AASLD Practice Guidance on Risk Stratisfaction and Management of Portal Hypertension and Varices in Cirrhosis, Hepatology 79 (5): p1180-1211. Tersedia di https://journals.lww.com/hep/fulltext/2024/05000/aasld_practice_guidance_on_risk_stratification_and.22.aspx
- Biggins, S.W., et. al., 2021, Diagnosis, Evaluation, and Management of Asites, Spontaneous Bacterial Peritonitis and Hepatorenal Syndrome: 2021 Practice Guidance by the American Association for the Study of Liver Diseases, Hepatology Vol. 74 No.2.
- Aplikasi Lexidrug, 2026, UpToDate.
Konsultasikan kesehatan fungsi hati Anda bersama dokter spesialis kami.
Jadwal praktik dokter https://rkzsurabaya.com/dokter-spesialis-penyakit-dalam/