Penatalaksanaan Asma Pada Dewasa: Diagnosis, Terapi, dan Kontrol Jangka Panjang

Revisi: 10 menit baca
Penatalaksanaan Asma Pada Dewasa: Diagnosis, Terapi, dan Kontrol Jangka Panjang

Definisi

Asma adalah penyakit saluran pernapasan yang bersifat heterogen yang ditandai dengan peradangan kronis saluran napas. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan aliran udara sehingga penderitanya mengalami kesulitas bernapas.1

Gambar 1. Perbedaan Paru-Paru Normal dan Paru-Paru Penderita Asma

Gejala

Gejala asma dapat berbeda pada setiap orang, namun yang paling umum meliputi:1

  • Mengi
  • Sesak napas
  • Dada terasa berat
  • Batuk, terutama yang disertai gangguan aliran udara saat bernapas.

Diagnosis

Diagnosis asma dapat ditegakkan apabila seseorang mengalami beberapa gejala pernapasan dengan ciri-ciri sebagai berikut:1

  • Mengalami lebih dari satu gejala, seperti sesak napas, mengi, atau batuk
  • Gejala sering memburuk pada malam hari atau menjelang subuh
  • Gejala dapat datang dan pergi dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda
  • Gejala biasanya dipicu oleh beberapa faktor, seperti: Infeksi virus (misalnya flu), Aktivitas fisik atau olahraga, Paparan alergen (debu, serbuk bunga, dll), Perubahan cuaca, dan Iritan seperti asap kendaraan, asap rokok, atau bau yang menyengat

Tujuan pengobatan1

Tujuan jangka panjang pengobatan asma adalah untuk mengontrol gejala asma dan mengurangi risiko asma di kemudian hari, seperti serangan asma (eksaserbasi), gangguan napas yang menetap, efek samping obat, hingga risiko kematian.

Gejala yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko terjadinya serangan/eksaserbasi, yaitu kondisi ketika gejala asma muncul tiba-tiba dan memburuk dengan cepat. Asma yang terkontrol ditandai dengan tidak munculnya gejala asma pada siang hari, tidak terbangun pada malam hari akibat asma, tidak sering menggunakan obat pereda (reliever), dan tidak ada hambatan ketika beraktivitas, termasuk saat berolahraga.

Pengobatan Asma

Kategori Obat Asma1

Dalam penanganan asma, obat-obatan dibagi menjadi tiga kategori utama berdasarkan fungsinya:

Reliever (Pereda Cepat)

Reliever merupakan bronkodilator kerja cepat yang digunakan untuk mengatasi bronkokonstriksi akut. Indikasinya adalah saat muncul gejala atau pada eksaserbasi asma. Reliever tidak digunakan secara rutin, namun dapat dipertimbangkan sebagai profilaksis sebelum aktivitas pemicu, seperti olahraga. Contoh: short-acting beta-2 agonist (SABA), kortikosteroid sistemik, kombinasi kortikosteroid inhalasi (ICS)-Formoterol, dan Ipratropium.

Controller (Pengontrol Jangka Panjang)

Controller digunakan dalam jangka panjang untuk mengontrol asma, diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma persisten. Terapi ini berfokus pada pengendalian inflamasi kronis saluran napas. Contoh:ICS dosis rendah, kombinasi ICS dan long acting Beta-2 agonist (LABA), leukotriene receptor antagonist (LTRA), Tiotropium, dan agen biologi.

Terapi tambahan

Terapi tambahan diberikan pada pasien dengan asma berat yang tidak terkontrol, ditandai dengan gejala persisten dan/atau eksaserbasi berulang meskipun telah mendapatkan controller dosis tinggi serta pengendalian faktor risiko yang adekuat. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kontrol asma dan menurunkan risiko eksaserbasi lebih lanjut.  

Golongan Obat1,2

Agonis Beta-2

Agonis beta-2 hanya boleh digunakan sesuai kebutuhan untuk menghilangkan gejala. Berdasarkan durasi kerjanya, agonis beta-2 digolongkan menjadi 2, yaitu short acting beta-2 agonist (SABA) dan long acting acting beta-2 agonist (LABA).

Mekanisme: Agonis beta-2 berikatan dengan reseptor beta-2 adrenergik di paru-paru dan menyebabkan efek bronkodilatasi/relaksasi otot saluran pernapasan.

 SABALABA
Nama ObatSalbutamol / Albuterol, Terbutaline, dan FenoterolSalmeterol dan Formoterol
Efek sampingTakikardia (1%-7%), tremor (5%-38%),  mual (2%-10%), muntah (3%-7%), faringitis (14%), rhinitis (5%-16%), bronkitis (≥5%)Sakit kepala (13%-17%), Tremor (1,9%-8,8%), diare (5%), mual (5%), bronkritis (5%)
Durasi kerja>3 jam12 jam
IndikasiRelieverReliever dan controller (dalam bentuk kombinasi ICS-LABA)
Penggunaan secara tunggalTidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko eksaserbasi, sehingga dikombinasi dengan ICSTidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko eksaserbasi, sehingga dikombinasi dengan ICS
Penggunaan secara rutinTidak direkomendasikan karena akan memperburuk kontrol asma dan menyebabkan penurunan regulasi reseptor betaDapat digunakan secara rutin dalam bentuk kombinasi ICS-LABA
Tabel 1. Perbedaan SABA dan LABA1,2,3

Kortikosteroid

Mekanisme: Kortikosteroid bekerja dengan cara mengurangi respons inflamasi saluran napas terhadap alergen.

Berdasarkan rute pemberiannya, kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

Kortikosteroid sistemik (oral dan injeksi)

Kortikosteroid oral (OCS) memiliki efektivitas yang sama dengan kortikosteroid injeksi. Kortikosteroid sistemik digunakan saat terjadi eksaserbasi asma atau pada asma yang tidak terkontrol. Contoh OCS : Prednisolone, Methylprednisolone, Hydrocortisone, dan Dexamethasone.

Nama ObatDosis
PrednisoloneOral: 40-60 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis terbagi selama 5-7 hari
MethylprednisoloneOral, IV: 40-60 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis terbagi selama 5-7 hari. Pada pasien kritis dosis dapat ditingkatkan 60-80 mg tiap 6-12 jam
DexamethasoneOral: 12-16 mg/hari hanya untuk 1-2 hari
HydrocortisoneOral: 200 mg dalam dosis terbagi selama 5-7 hari
Tabel 2. Dosis Kortikosteroid Sistemik untuk Dewasa3
Kortikosteroid inhalasi

Kortikosteroid inhalasi (ICS) dosis rendah dan dosis sedang digunakan untuk mengontrol asma sedangkan ICS dosis tinggi digunakan saat terjadi eksaserbasi asma atau pada asma yang tidak terkontrol. Contoh ICS adalah Fluticasone propionate, Budesonide, Beclometashone dipropionate, dan Mometasone furoate.

Kortikosteroid InhalasiTotal dosis ICS per hari (mcg)
RendahSedangTinggi
Beclometasone dipropionate (HFA)100 – 200>200 – 400>400
Budesonide (DPI)200 – 400>400 – 800>800
Ciclesonide (HFA)*80 – 160>160 – 320>320
Fluticasone propionate (DPI, HFA)100 – 250>250 – 500>500
Mometasone furoate (HFA)200 – 400>400
Tabel 3. Dosis ICS untuk Dewasa dan Anak (usia ≥12 tahun)

Ket : DPI (Dry Powder Inhaler), HFA (Hydrofluoroalkone propellant)

*Obat belum tersedia di Indonesia

KeteranganInhalasiOral
OnsetCepat (<5 menit)Lambat
Efek samping obatMinimumLebih besar (dapat menyebabkan hyperglikemia, cushing syndrome, osteoporosis)
Dosiskecil (mcg)Besar (mg)
Target organLangsungTidak langsung
Rekomendasi penggunaan (eksaserbasi dan tidak terkontrol) berdasarkan pedoman asmaDianjurkan sebagai pilihan pertamaSebagai alternatif
Tabel 4. Perbedaan Kortikosteroid Inhalasi dan Oral

Antimuskarinik

Mekanisme: Antimuskarinik bekerja dengan menimbulkan efek bronkodilator jalan napas. Antimuskarinik terdiri dari short acting muscarinic antagonist (SAMA), contoh: Ipratropium dan long acting muscarinic antagonist (LAMA), contoh: Tiotropium. Ipratropium dapat dikombinasi dengan SABA pada penanganan eksaserbasi asma, sedangkan Tiotropium digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengontrol asma. Penggunaan LAMA dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan untuk ICS-LABA dosis rendah.

Leukotriene receptor antagonist (LTRA)

Mekanisme: Leukotriene receptor antagonist memberikan efek bronkodilatasi, mengurangi inflamasi, serta memperbaiki gejala asma dan fungsi paru. Leukotriene receptor antagonist digunakan sebagai terapi alternatif untuk mengontrol asma, namun kurang efektif bila dibandingkan ICS, khususnya untuk eksaserbasi. Leukotriene receptor antagonist dapat dikombinasi dengan ICS. Contoh LTRA adalah Zafirlukast dan Montelukast.

Agen biologi

Agen biologi dapat dipertimbangkan pada pasien asma berat yang dipicu alergi atau memiliki penanda eosinofil dan gejalanya tidak terkontrol dengan penggunaan kombinasi ICS dosis tinggi–LABA. Agen biologi terdiri dari anti IgE (contoh Omalizumab), anti–IL5 (contoh Mepolizumab dan Resilizumab), anti reseptor IL4 (contoh Dupilumab).

Aminophylline dan Theophylline

Penggunaan Aminophylline injeksi tidak disarankan pada penanganan eksaserbasi akut, begitu juga dengan penggunaan Theophylline sustained release secara rutin untuk mengontrol asma. Hal ini berkaitan dengan efektivitas dan profil keamanan yang rendah. Theophylline sustained release dosis rendah dapat dikombinasi dengan ICS dosis rendah sebagai alternatif controller, namun kurang efektif dibanding kombinasi ICS dosis rendah–LABA.

Tatalaksana Pengobatan Asma

Terapi asma harus segera diberikan setelah diagnosis asma ditegakkan, rekomendasi terapi untuk pengobatan awal asma dapat dilihat pada tabel 5.1

GejalaTerapi awal yang dipilih
Semua pasien dengan gejala asmaPemberian SABA tunggal (tanpa ICS) tidak direkomendasikan.
Gejala asma jarang (<2 kali dalam sebulan)Kombinasi ICS dosis rendah–Formoterol bila diperlukan. Pilihan alternatif: penggunaan ICS dosis rendah saat SABA digunakan.
Gejala asma muncul atau membutuhkan reliever ≥2 kali dalam sebulankombinasi ICS dosis rendah–Formoterol bila diperlukan. Pilihan alternatif: ICS dosis rendah + SABA bila diperlukan.
Gejala asma berat hampir setiap hari, atau terbangun karena asma ≥1 kali seminggu, terutama jika terdapat faktor risikoKombinasi ICS dosis rendah–Formoterol sebagai controller dan reliever. Pilihan alternatif: ICS-LABA dosis rendah + SABA sesuai kebutuhan. dosis sedang dengan SABA bila diperlukan sebagai reliever.
Asma muncul pertama kali dalam kondisi berat dan tidak terkontrol, atau dengan eksaserbasiOCS jangka pendek (5-7 hari), lalu dimulai terapi ICS dosis tinggi sebagai controller.
Tabel 5. Rekomendasi Terapi Awal Asma untuk Dewasa

Setelah pengobatan asma dimulai, terapi selanjutnya ditentukan berdasarkan respons masing-masing individu pada pengobatan. Terapi dapat ditingkatkan atau diturunkan sesuai tahapan pengobatan (Tabel 6). Tahap pengobatan ditingkatkan jika asma tidak terkontrol dan terjadi eksaserbasi asma, namun perlu dipastikan terlebih dahulu diagnosis, cara penggunaan inhaler sudah benar, dan kepatuhan pasien dalam menggunakan obat. Tahap pengobatan asma diturunkan jika gejala terkontrol selama 3 bulan dan risiko terjadinya serangan rendah.

TahapControllerReliever
Pilihan utamaPilihan alternatifPilihan utamaPilihan alternatif
1Kombinasi ICS dosis rendah-Formoterol bila perluICS dosis rendah saat SABA digunakan (bila perlu)Kombinasi ICS dosis rendah -Formoterol bila perluSABA bila perlu
2ICS dosis rendah setiap hari atau kombinasi ICS dosis rendah-Formoterol bila perluLTRA atau ICS dosis rendah kapanpun SABA digunakan
3Kombinasi ICS dosis rendah-LABA atau ICS dosis sedangKombinasi ICS dosis rendah-LTRAKombinasi ICS dosis rendah-Formoterol sebagai controller sekaligus reliever
4Kombinasi ICS dosis sedang-LABAKombinasi ICS dosis tinggi-LABA atau menambahkan terapi Tiotropium / LTRA
5Kombinasi ICS dosis tinggi-LABA, disarankan melakukan penilaian karakteristik asma untuk menentukan pemberian terapi tambahan seperti Tiotropium, anti IgE, anti IL5/5R, atau anti IL4ROCS dosis rendah (Prednisolone ≤7,5 mg/hari) dengan mempertimbangkan efek samping obat (osteoporosis)
Tabel 6. Tatalaksana Pengobatan Asma pada Dewasa dan Remaja Usia 12 tahun

Catatan :

  • LTRA kurang efektif dibandingkan ICS, terutama dalam mengatasi eksaserbasi, oleh karena itu LTRA digunakan pada pasien yang tidak dapat menggunakan ICS, mengalami efek samping akibat penggunaan ICS, atau pada pasien asma yang disertai rhinitis alergi.
  • Pada dewasa, antikolinergik inhalasi (Ipraptopium) dapat menjadi pilihan alternatif SABA inhalasi untuk mengatasi gejala asma, namun memiliki onset yang lebih lambat dibanding SABA inhalasi. Selain itu, SABA oral dan Theophylline memiliki risiko efek samping yang lebih tinggi dan tidak direkomendasikan.

Tingkat Kontrol Asma

Kontrol asma yang buruk juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko eksaserbasi asma. Derajat kontrol asma dapat dinilai dari 4 pertanyaan berikut :1

 YATIDAK
Apakah ada gejala siang hari (mengi, sesak dada terasa berat, batuk, hambatan pernapasan) >2x/minggu  
Apakah pernah terbangun di malam hari karena asma  
Apakah penggunaan pelega (reliever) >2x/minggu  
Apakah ada keterbatasan aktivitas akibat asma  
Total Kejadian  
Tabel 7. Tingkat Kontrol Asma

Keterangan :

Tidak ada kejadian : Asma terkontrol

1-2 kejadian : Terkontrol sebagian

3-4 kejadian : Tidak terkontrol

Klasifikasi Asma Berdasarkan Tingkat Keparahan Asma

Berdasarkan keparahannya asma dapat dibagi atas empat klasifikasi, yaitu intermiten, persisten ringan, persisten sedang dan persisten berat. Untuk menentukan klasifikasi tersebut didasarkan atas gejala klinis dan pemeriksaan faal paru.2

Penurunan (selama 2-4 minggu terakhir)Asma intermitenAsma persisten
RinganSedangParah
Gejala≤2 hari/minggu≥3 hari/minggu tapi tidak setiap hariSehari – hariSepanjang hari
Terbangun pada malam hari≤2 malam/bulan3 – 4 malam/bulan>1 malam/minggu tetapi tidak setiap malamSering,  7 malam/minggu
Menggunakan Short acting beta2- agonist (untuk pengobatan)≤2 hari/minggu≥3 hari/minggu tetapi ≤1x/hariSehari – hariBeberapa kali sehari
Faal paruAPE >80% VEP1 > 80% nilai prediksi APE >80% nilai terbaik Variabilitas APE <20%APE >80% VEP1 > 80% nilai prediksi APE >80% nilai terbaik Variabilitas APE <20-30%APE 60-80% VEP1 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik Variabilitas APE >30%APE <60% VEP1 < 60% nilai prediksi APE <60% nilai terbaik Variabilitas APE >30%
RisikoAsma IntermitenAsma Persisten
Eksaserbasi membutuhkan kortikosteroid sistemik≤1x/tahun≥2x/tahun
Tabel 8. Klasifikasi tingkat keparahan asma

 Keterangan : APE (Arus Puncak Ekspirasi),  VEP1 (Volume Ekspirasi Detik Pertama)

Pada keadaan eksaserbasi, serangan asma dapat bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa. Derajat eksaserbasi dapat dinilai dari gejala dan tanda saat terjadi serangan asma.

KeteranganRingan – sedangBeratMengancam jiwa
BerbicaraFrasaPer kataPenurunan kesadaran, silent chest, pernapasan paradoksal
PosisiDudukDuduk membungkuk
KesadaranTidak agitasiAgitasi
Frekuensi napasMeningkat <30 kali/menit>30 kali/menit
Frekuensi nadi100-120 kali/menit>120 kali/menit
Saturasi<90 – 95%<90%
Tabel 9. Derajat Eksaserbasi Asma

Penatalaksanaan Eksaserbasi  di IGD1,3

Eksaserbasi asma berat merupakan keadaan darurat medis yang mengancam jiwa, dan harus mendapatkan penanganan di IGD.

KeteranganDosis Dewasa
OksigenDiberikan dengan face mask (biasanya 1 L/menit) untuk mempertahankan saturasi oksigen 94 – 98%.
SalbutamolMDI (90 mcg/semprot)4-10 semprot setiap 20 menit sebanyak 3 dosis– 4 jam, selanjutnya kurangi dosis secara bertahap sesuai toleransi menjadi 2-4 semprot tiap 1-4 jam sesuai kebutuhan
Nebul (2,5 mg – 5 mg)Tiap 20 menit sebanyak 3 dosis, kemudian 2,5 – 5 mg tiap 1-4 jam bila diperlukan, atau 10-15 mg/jam melalui nebul secara kontinyu
Ipratropium BromideMDI (18 mcg/semprot)4-8 semprot setiap 20 menit sebanyak 3 dosis, bila diperlukan hingga 3 jam
Nebul (0,5 mg)Tiap 20 menit sebanyak 3 dosis, kemudian setiap jam kebutuhan hingga 3 jam
Prednisolone Oral40 – 60 mg/hari dalam 1-2 dosis terbagi, dilanjutkan sampai pemulihan (5 hingga 7 hari)
Hydrocortisone Oral200 mg dalam dosis terbagi selama 5-7 hari
Methylprednisolone IV1 mg/kg setiap 6 jam pada hari pertama
Magnesium Sulfate2 g sebagai dosis tunggal selama 20 menit IV. Tidak dianjurkan untuk penggunaan rutin pada eksaserbasi asma.
Tabel 10. Penatalaksanaan Eksaserbasi di IGD

Segera jadwalkan konsultasi ke dokter spesialis paru untuk menjaga kesehatan pernapasan Anda. Untuk informasi lebih lengkap, dapat dilihat di: https://rkzsurabaya.com/dokter-spesialis-paru/

Pustaka :

  1. Fitz Gerald, J, M, et al., 2025, Global Initiative for Asthma: Global Strategy for Asthma Management and Prevention, USA: GINA.
  2. So, J, Y., Aibert., Kartika S., 2021, Asthma: Diagnosis and Treatment, European Medical Journal, 3(4): 111-121.
  3. Aplikasi Lexicomp Version 9.4.3, Copyright 2026, Walters Kluwer Clinical Drug Information, Inc.

apt. Angela Merici Ayu Permatasari, S.Farm.
Artikel kesehatan dari tim RKZ Surabaya

Rekomendasi untuk Anda