Gout: Panduan Penatalaksanaan Berdasarkan Bukti Ilmiah

Revisi: 8 menit baca
Gout: Panduan Penatalaksanaan Berdasarkan Bukti Ilmiah

Definisi

Hiperurisemia didefinisikan sebagai konsentrasi asam urat serum yang tinggi di dalam darah. Terdapat beberapa sumber berbeda terkait kriteria nilai asam urat. Secara konvensional, ambang batas diagnostik biasanya ditetapkan pada ≥7,0 mg/dl untuk pria dewasa dan ≥6,0 mg/dl untuk wanita dewasa, sedangkan jika dilihat dari batas kelarutan biologis monosodium urat sekitar 6,8 mg/dl. Untuk pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi, ambang batas 5,0 mg/dl dianggap sebagai batas kritis yang lebih relevan secara klinis.1–3

Meski tidak semua pasien hiperurisemia bergejala, namun kondisi tersebut berhubungan dengan penumpukan asam urat yang dapat menyebabkan peradangan sendi (penyakit gout) dan meningkatkan risiko batu ginjal.

Gejala dan Komplikasi Gout

Beberapa tanda dan gejala ketika pasien mengalami serangan gout, antara lain:4,5

  • Nyeri hebat yang muncul secara mendadak (seringkali pada malam hari) disertai dengan kemerahan, rasa panas, nyeri dan bengkak pada salah satu atau kedua sendi metatarsophalangeal. Pasien juga dapat dicurigai mengalami gout meski kemerahan atau bengkak terjadi di pergelangan kaki, lutut, tangan, pergelangan tangan, siku, atau telapak kaki tengah.
  • Pada tahap lanjut, kristal asam urat dapat membentuk benjolan keras dan menyakitkan di bawah kulit yang disebut tofi, seringkali ditemukan di sendi, telinga, atau tendon.

Gejala kronis seperti kelainan bentuk sendi dan keterbatasan gerak dapat terjadi pada pasien yang mengalami serangan gout setiap tahun. Gout dan hiperurisemia bukan sekedar penyebab nyeri sendi, melainkan gangguan metabolik sistemik yang terkait dengan penyakit lain, seperti penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronik, diabetes, resistensi insulin, penyakit hati steatotik, osteoarthritis, serta penyakit pernapasan dan mata.6

Penyebab3,7

Hiperurisemia disebabkan oleh produksi asam urat yang berlebihan atau penurunan ekskresi asam urat. Asam urat merupakan hasil katabolisme purin yang dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Penumpukan asam urat dapat menyebabkan peradangan sendi yang disebut dengan artritis gout.

Tata laksana

Perubahan gaya hidup

Menurunkan berat badan bila pasien kegemukan; latihan fisik teratur; membatasi konsumsi alkohol, sirup tinggi fruktosa, dan makanan tinggi purin, seperti: daging, jeroan (otak, ginjal, hati), sarden, ikan teri, kacang-kacangan.

Pengobatan1–3,7

Strategi pengobatan hiperurisemia seringkali difokuskan untuk membatasi episode akut yang ditandai dengan respon inflamasi yang dipicu oleh pengendapan kristal urat. Namun, pada kondisi hiperurisemia tanpa gejala (asimtomatis), pemberian pengobatan umumnya belum direkomendasikan kecuali pada kondisi tertentu.

Penanganan Serangan Gout2,8

  • Pilihan pertama untuk serangan gout adalah menggunakan Colchicine, NSAIDs, atau Kortikosteroid (oral, intraartikular, atau intramuskular). [Evidence: Strongly recommended; High].
  • Penggunaan Interleukin-1 (IL-1) inhibitor direkomendasikan bila terapi antiinflamasi lainnya gagal, tidak dapat ditoleransi, atau dikontraindikasikan. Contoh: Anakinra (belum tersedia di Indonesia). [Evidence: Conditionally recommend; Moderate].
  • Kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri pada sendi.
  • Pada pasien dengan riwayat penggunaan Hydrochlorothiazide dapat dipertimbangkan untuk mengganti dengan Losartan atau Calcium Channel Blockers. Penggunaan Hydrochlorothiazide berisiko meningkatkan kadar asam urat. [Evidence: Conditionally recommend; Very low].
Colchicine8,9
  • Merupakan pilihan pertama pada pasien yang mengalami serangan gout. Obat diberikan sesegera mungkin, idealnya dalam 12-24 jam setelah muncul gejala.
  • Pemberian Colchicine dihindari pada pasien yang menerima P-glycoprotein dan/atau CYP3A4 inhibitors, seperti Cyclosporin atau Clarithromycin. Pemberian bersama dapat meningkatkan serum Colchicine, sehingga pasien berisiko mengalami toksisitas obat.
  • Colchicine dapat dikombinasi dengan NSAIDs atau Kortikosteroid pada serangan artritis gout akut dengan manifestasi poliartritis atau gagal monoterapi.

Dosis

Hari pertama, dosis muatan 1 mg (atau 1,2 mg), diikuti dengan 0,5 mg (atau 0,6 mg) 1 jam kemudian, maksimum total dosis 1,8 mg. Total dosis >1,8 mg/hari dapat diberikan pada pasien yang masih mengalami serangan dengan pemberian Colchicine dosis profilaksis.

Hari kedua dan seterusnya, Colchicine diberikan 0,6 mg (atau 0,5 mg), 1 hingga 2 kali sehari sampai gejala teratasi. Beberapa ahli merekomendasikan pemberian dilanjutkan hingga 1-2 hari setelah gejala teratasi. Jika tidak membaik setelah 3 hari, pertimbangkan untuk mengganti ke antiinflamasi lain.

Pada pasien dengan riwayat penggunaan Colchicine sebagai terapi profilaksis, dapat diberikan dosis 0,6 mg (atau 0,5 mg) 2 kali sehari, sejak hari kedua sampai 24-48 jam setelah gejala teratasi, kemudian dilanjutkan dengan dosis profilaksis 0,5 mg (atau 0,6 mg) 1 hingga 2 kali sehari.9

Nonsteroidal Anti-inflammatory Drug (NSAIDs)

Pemberian NSAIDs dapat dikombinasi dengan Colchicine bila diperlukan, namun dihindari pada pasien dengan gagal ginjal parah. Pemberian kombinasi dengan NSAIDs dapat disertai dengan proton pump inhibitors bila diperlukan.

Contoh: Celecoxib, Etoricoxib, Meloxicam, Diclofenac, Naproxen.

Kortikosteroid

Obat Kortikosteroid dapat diberikan secara intra-articular atau oral. Pemberian secara intravena atau intramuskular terbatas pada pasien yang tidak dapat menerima terapi oral atau intra-articular.

Contoh: Methylprednisolone, Prednisolone.

Dosis Prednisolone 30-40 mg/hari diberikan dalam 1 atau 2 dosis terbagi sampai gejala membaik, biasanya 2-5 hari. Lalu diturunkan secara bertahap sesuai toleransi pasien, biasanya 7-10 hari. Penurunan lebih lambat (14-21 hari) mungkin diperlukan pada pasien yang mengalami beberapa kali kekambuhan dalam waktu belakangan ini.9

Dosis Methylprednisolone9

Intra-articular bergantung pada ukuran sendi. Pada sendi besar (lutut) 40 mg, sendi sedang (pergelangan tangan, pergelangan kaki, siku) 30 mg, sendi kecil (jari kaki, jari tangan) 10 mg. Pemberian Methylprednisolone intra-articular dapat dipertimbangkan pada pasien yang mengalami serangan gout pada 1 atau 2 sendi.

Oral Methylprednisolonedigunakan terbatas pada pasien yang tidak dapat menerima kortikosteroid intra-articular. Dosis 24-32 mg/hari diberikan dalam 1 atau 2 dosis terbagi sampai gejala membaik, biasanya 2-5 hari, kemudian dosis diturunkan secara bertahap sesuai toleransi pasien, biasanya 7-10 hari. Penurunan lebih lambat (14-21 hari) mungkin diperlukan pada pasien yang mengalami beberapa kali kekambuhan dalam waktu belakangan ini.

Penanganan Hiperurisemia

Urate-lowering Therapy (ULT)

Kriteria pemberian ULT2

  • Pasien gout yang disertai dengan salah satu dari gejala penyerta, seperti memiliki subkutan tophi ≥1, kerusakan sendi pada pemeriksaan radiografi yang berhubungan dengan gout atau sering mengalami serangan gout berulang (≥2 kali/tahun). [Evidence: Strongly recommend; Moderate-High].
  • Pasien yang mengalami serangan gout >1 kali, namun <2 kali/tahun. [Evidence: Conditionally recommend; Moderate].
  • Pasien yang mengalami serangan gout pertama yang disertai dengan penyakit penyerta, seperti penyakit ginjal kronis stage ≥3, nilai asam urat >9 mg/dl, atau mengalami urolithiasis. [Evidence: Conditionally recommend; Very low].
  • ULT dapat langsung diberikan ketika pasien mengalami serangan gout tanpa harus menunggu serangan gout teratasi.
  • Pemberian ULT pada pasien hiperurisemia (>6,8 mg/dl) tanpa gejala, seperti serangan gout atau tophi tidak direkomendasikan. [Evidence: Conditionally recommend; High].
  • Pasien hiperurisemia tanpa gejala dengan nilai asam urat >9 mg/dl disertai salah satu kondisi, yaitu gambaran double contour pada pemeriksaan ultrasonografi sendi, pemeriksaan cairan sendi terdapat kristal urat, atau terbukti adanya batu saluran kemih.3

Rekomendasi Pilihan ULT2,3,8

  • Allopurinol merupakan pilihan pertama untuk semua pasien, termasuk pada pasien gagal ginjal kronis stage ≥3. [Evidence: Strongly recommend; Moderate].
  • Apabila target terapi tidak tercapai dengan penggunaan Allopurinol, maka dapat diganti dengan Febuxostat atau uricosuric atau kombinasi ULT dengan uricosuric.
  • Obat golongan xanthine oxidase inhibitor lebih direkomendasikan dibanding Probenecid pada pasien gagal ginjal kronis stage ≥3. [Evidence: Strongly recommend; Moderate].
  • Direkomendasikan untuk memulai terapi profilaksis antiinflamasi bersama ULT, seperti Colchicine, Nonsteroidal Anti-inflammatory Drug (NSAIDs), Prednisone, atau Prednisolone selama 3-6 bulan dengan evaluasi terhadap kondisi pasien. [Evidence: Strongly recommend; Moderate].
  • Disarankan untuk mengganti ULT lain pada pasien yang menggunakan Febuxostat dengan riwayat penyakit kardiovaskular, atau baru mengalami kejadian kardiovaskular. [Evidence: Conditionally recommend; Moderate]
  • Target asam urat: <6 mg/dl atau <5 mg/dl pada pasien dengan artritis gout kronis [Evidence: Strongly recommend; High]. Target <3 mg/dl tidak disarankan dalam jangka panjang karena diduga dapat menyebabkan penyakit neurodegeneratif.
  • Pada pasien yang gagal mencapai target asam urat, sering mengalami serangan gout, atau tophi yang tidak kunjung sembuh dengan menggunakan Xanthine Oxidase Inhibitor, uricosuric, dan intervensi lainnya, disarankan untuk menggunakan Pegloticase injeksi. [Evidence: Strongly recommend; Moderate]. Namun, obat tersebut belum tersedia di Indonesia.

Golongan Obat ULT

  • Xanthine Oxidase Inhibitor, contoh: Allopurinol, Febuxostat.

Bekerja dengan menurunkan produksi asam urat melalui penghambatan pada enzim Xanthine Oxidase yang berperan dalam pembentukan asam urat.

Dosis Allopurinol dimulai dari dosis rendah ≤100 mg/hari atau ≤50 mg/hari pada pasien gagal ginjal kronis. Dosis dapat ditingkatkan 100 mg setiap 2-4 minggu untuk mencapai target nilai asam urat. Maksimum 800 mg/hari.8,9

Dosis Febuxostat dimulai dari dosis ≤40 mg/hari dan dapat ditingkatkan menjadi 80 mg/hari bila belum mencapai target setelah 2 minggu. Jika diperlukan, dosis dapat ditingkatkan hingga 120 mg/hari.9

  • Uricosuric Agent, contoh: Probenecid

Bekerja dengan meningkatkan ekskresi asam urat melalui urin dengan menghalangi penyerapan kembali asam urat melalui ginjal. Contoh: Probenecid.

Dosis Probenecid dimulai dengan dosis awal 250 mg, 2 kali sehari, selanjutnya 500 mg/hari. Dosis dapat ditingkatkan bila kadar asam urat belum tercapai, maksimum 2 g/hari.3

Terapi Profilaksis Serangan Gout Akut3

  • Terapi profilaksis serangan akut direkomendasikan pada pasien artritis gout kronis yang mendapatkan ULT.
  • Profilaksis diberikan selama 3-6 bulan sejak awal pemberian ULT dengan Colchicine 0,5-1 mg/hari atau NSAIDs dosis rendah pada pasien dengan yang tidak dapat menoleransi Colchicine. Apabila keduanya dikontraindikasikan, maka dapat diberikan Kortikosteroid dosis rendah.

Baca juga: Cedera Hati Akibat Obat (Drug-Induced Liver Injury)

REFERENSI

1.        Expert consensus for the diagnosis and treatment of patients with hyperuricemia and high cardiovascular risk: 2025 update. Eur. J. Intern. Med. (2026).

2.        FitzGerald, J. D. et al. 2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout. Arthritis Care Res. 72, 744–760 (2020).

3.        Manuaba, R. W., Marpaung, B., Pramudiyo, R. & Faridin. Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Hiperurisemia & Artritis Gout. (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2024).

4.        Lohr, J. W. Hyperuricemia Treatment & Management. WebMD LCC https://emedicine.medscape.com/article/241767-treatment (2022).

5.        National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE). Gout : diagnosis and management. Nice Guidel. (2022).

6.        Timsans, J., Palomaki, A. & Kauppi, M. Gout and Hyperuricemia: A Narrative Review of Their Comorbidities and Clinical Implications. J. Clin. Med. 13, (2024).

7.        Gliozzi, M., Malara, N., Muscoli, S. & Mollace, V. The treatment of hyperuricemia. Int. J. Cardiol. 213, 23–27 (2016).

8.        Richette, P. et al. 2016 updated EULAR evidence-based recommendations for the management of gout. Ann. Rheum. Dis. 76, 29–42 (2017).

9.        Wolters Kluwer. UpToDate Lexidrug. (2026).

apt. Novita Hendriyadi, S.Farm., M.Farm.
Artikel kesehatan dari tim RKZ Surabaya

Rekomendasi untuk Anda