Tatalaksana Dislipidemia dalam Praktik Klinis

Revisi: 9 menit baca

Dislipidemia adalah gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol low density lipoprotein (LDL-C), trigliserida, lipoprotein (a), serta penurunan kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL-C). Dislipidemia meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerosis atau atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD) sehingga tatalaksana dislipidemia penting dilakukan sebagai upaya pencegahan primer maupun sekunder ASCVD.1,2

Aterosklerosis disebabkan oleh penumpukan progresif LDL-C dan lipoprotein lain yang mengandung apolipoprotein-B (ApoB) di dinding arteri sehingga memicu rangkaian reaksi inflamasi dan menyebabkan pembentukan plak aterosklerosis. Plak aterosklerosis dapat ruptur dan membentuk thrombus yang secara akut menghambat aliran darah dan mengakibatkan kejadian ASCVD berupa angina tidak stabil, infark miokard (MI), stroke iskemik, atau penyakit arteri perifer. Berbagai uji klinis acak menunjukkan bahwa penurunan LDL-C dapat mengurangi risiko kejadian ASCVD. 1,2

Kategori Risiko ASCVD

Identifikasi tingkat risiko merupakan langkah pertama dan utama dalam pencegahan penyakit kardiovaskular untuk menentukan target pencapaian terapi penurun lipid. Risiko kardiovaskular dikategorikan menjadi beberapa tingkat berdasarkan bukti penilaian klinis atau perhitungan risiko kardiovaskular total.

Perhitungan risiko kardiovaskular total

Terdapat beberapa metode perhitungan risiko kardiovaskular total, antara lain:

Tabel 1. Klasifikasi tingkat risiko ASCVD1,3,4

KlasifikasiSCORE2 atau SCORE2-OPPREVENT ASCVDWHO
Sangat tinggi≥20%≥30%
Tinggi≥10-<20%≥10%>20-<30%
Menengah≥2-<10%5-10%10% – <20%
Borderline3-5%5% -<10%
Rendah<2%<3%<5%

Penilaian klinis risiko kardiovaskular

Berdasarkan Guideline ESC, selain hasil perhitungan dengan metode SCORE2 atau SCORE2-OP, bukti penilaian klinis juga menentukan tingkat kategori risiko (Tabel 2).

Tabel 2. Tingkat risiko kardiovaskular.2

Risiko sangat tinggiPasien dengan salah satu kriteria berikut: Penyakit ASCVD yang terbukti secara klinis maupun pada pemeriksaan radiologia,bDiabetes Mellitus (DM) dengan kerusakan organ target (microalbuminuria, retinopathy, atau neuropathy), atau minimal 3 faktor risiko mayorc, atau DM tipe 1 lebih dari 20 tahunGagal ginjal kronik derajat berat (eGFR <30 ml/menit/1,73m2)Perhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP ≥20% Hiperkolesterolemia familial dengan ASCVD atau dengan faktor risiko mayor lainnya
Risiko tinggiPasien dengan salah satu kriteria berikut: Hasil pengukuran kolesterol total >310 mg/dl, LDL-C >190 mg/dl, atau tekanan darah ³180/110 mmHgHiperkolesterolemia familial tanpa faktor risiko mayor lainnyaDiabetes Mellitus tanpa kerusakan organ target, dengan durasi ³10 tahunGagal ginjal kronik derajat sedang (eGFR 30-59 ml/min/1,73 m2)Perhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP ≥10-<20%
Risiko menengahPasien DM usia muda (<35 tahun untuk DM tipe 1, <50 tahun untuk DM tipe 2) dengan durasi DM <10 tahun, tanpa faktor risiko lainnyaPerhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP ≥2-<10%
Risiko rendahPerhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP <2%

Keterangan:

  1. ASCVD yang terbukti secara klinis antara lain riwayat sindrom koroner akut (infark miokard atau angina tidak stabil), angina pektoris stabil, revaskularisasi koroner (percutaneous coronary intervention (PCI), coronary artery bypass graft (CABG), atau prosedur revaskularisasi arteri lainnya), stroke atau transient ischemic attack (TIA), dan penyakit arteri perifer (peripheral artery disease/PAD).
  2. ASCVD yang terbukti melalui pemeriksaan radiologi berupa temuan plak signifikan pada angiografi koroner atau CT scan (multivessel coronary disease dengan stenosis >50% pada dua arteri epikardial mayor), atau pada ultrasonografi karotis.
  3. Faktor risiko mayor antara lain hiperkolesterolemia, hipertensi, perokok, DM, dan obesitas.

Tatalaksana Dislipidemia

Terapi farmakologi, non-farmakologi, serta pengendalian faktor metabolik seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas merupakan tatalaksana dislipidemia sebagai upaya:1

  • Pencegahan primer (mencegah timbulnya komplikasi penyakit kardiovaskular).
  • Pencegahan sekunder (mencegah komplikasi kardiovaskular lanjutan pada pasien yang telah menderita penyakit aterosklerosis dan kardiovaskular).
 Gambar 1. Indikasi terapi farmakologi dan non-farmakologi2

Target terapi

Target LDL-C pada pemberian terapi penurun lipid adalah sebagai berikut:1,2

  • Risiko sangat tinggi (pencegahan primer dan sekunder): penurunan ≥50% dari sebelum terapi dan mencapai <55 mg/dl.
  • Risiko tinggi: penurunan ≥50% dari sebelum terapi dan mencapai <70 mg/dl.
  • Risiko menengah: <100 mg/dl.
  • Risiko rendah: <116 mg/dl.
  • ASCVD telah mendapat terapi statin dengan dosis maksimal yang dapat ditoleransi dan mengalami kejadian vaskular kedua dalam 2 tahun: <40 mg/dl.

Terapi farmakologi

Statin

Merupakan obat utama dalam tatalaksana dislipidemia yang bekerja dengan menurunkan pembentukan kolesterol di hati melalui penghambatan enzim reductase 3-hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA), menurunkan sintesis LDL-C, dan meningkatkan penyerapan LDL-C dari plasma. Selain menurunkan LDL-C, statin juga mempunyai efek meningkatkan HDL-C dan menurunkan Trigliserida.1

Statin memiliki efek pleiotropik yang berperan dalam pencegahan ASCVD karena dapat memperbaiki fungsi endotel, menghambat proses remodelling, menstabilkan plak aterosklerosis, dan menurunkan stres oksidatif serta respon inflamasi pada dinding vaskular.2

Tabel 3. Intensitas berbagai jenis dan dosis harian statin terhadap penurunan LDL-C1

 Intensitas tinggiIntensitas menengahIntensitas rendah
Penurunan LDL-C≥50%30% – 49%<30%
StatinAtorvastatin 40 – 80 mg Rosuvastatin 20 – 40 mgAtorvastatin 10 – 20 mg Rosuvastatin 5 – 10 mg Simvastatin 20 – 40 mg Pravastatin 40 – 80 mg Lovastatin 40 mg Fluvastatin XL 80 mg Fluvastatin 40 mg BID Pitavastatin 1 – 4 mgSimvastatin 10 mg Pravastatin 10 – 20 mg Lovastatin 20 mg Fluvastatin 20 – 40 mg Pitavastatin 1 mg
Keterangan: BID (bis in die/dua kali sehari)

Statin intensitas tinggi direkomendasikan pada pasien dengan klinis ASCVD sebagai pencegahan sekunder untuk mencapai penurunan LDL-C ≥50% dan mencegah risiko kejadian ASCVD berulang. Rekomendasi pemberian terapi statin sebagai pencegahan primer ASCVDadalah sebagai berikut:1

  • Statin intensitas tinggi direkomendasikan untuk pasien usia 20-75 tahun dengan LDL-C ≥190 mg/dl (≥4,9 mmol/L) tanpa menghitung risiko ASCVD.
  • Statin intensitas tinggi direkomendasikan pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi (≥10%) untuk menurunkan LDL ≥50%.
  • Statin intensitas tinggi sebaiknya dipertimbangkan bagi pasien DM usia 40-75 tahun dengan beberapa faktor risiko ASCVD untuk menurunkan LDL ≥50%.
  • Statin intensitas menengah direkomendasikan untuk pasien DM usia 40-75 tahun tanpa menghitung risiko ASCVD.
  • Statin intensitas menengah dapat direkomendasikan pada pasien dengan risiko kardiovaskular intermediate (5-10%) untuk mencapai penurunan LDL ≥30%.

Bile acid sequestrants (Colestyramine, Colestipol, Colesevelam)

Bile acid sequestrant mengikat asam empedu di usus kemudian keluar melalui tinja. Kolesterol merupakan prekursor cairan asam empedu yang diproduksi di hati. Penyerapan asam empedu di usus akan meningkatkan perubahan kolesterol hati menjadi asam empedu sehingga menurunkan kadar LDL-C darah. Bile acid sequestrant diindikasikan untuk hiperkolesterolemia tanpa hipertrigliseridemia dan direkomendasikan bagi pasien yang intoleran terhadap statin. Kombinasi statin, ezetimibe, dan bile acid sequestrant dapat dipertimbangkan bagi pasien yang tidak mencapai target LDL-C walau telah mendapat kombinasi statin intensitas tinggi dan Ezetimibe.1,2

Bile acid sequestrant dapat menyebabkan malabsorpsi vitamin yang larut dalam lemak serta menurunkan penyerapan obat bila dikonsumsi bersamaan. Oleh karena itu, vitamin larut lemak (vitamin A,D,E,K) dan asam folat serta obat dengan indeks terapi sempit seperti Digoxin, Warfarin, Tiroksin, atau Thiazid sebaiknya diminum 1 jam sebelum atau 4 jam sesudah bile acid sequestrant.3

Asam fibrat (Fenofibrat)

Fibrat adalah agonis dari peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR) a. Melalui reseptor ini, fibrat menurunkan regulasi gen apoC-III, serta meningkatkan regulasi gen ApoA-I dan A-II. Berkurangnya sintesis ApoC-III menyebabkan peningkatan katabolisme trigliserida oleh lipoprotein lipase, berkurangnya pembentukan VLDL, dan meningkatnya pembersihan kilomikron. Peningkatan regulasi ApoA-I dan ApoA-II menyebabkan meningkatnya HDL-C. Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa fibrat bermanfaat menurunkan kejadian kardiovaskular pada pasien dengan TG >200 mg/dl.1,2,3

Ezetimibe

Obat golongan ini bekerja dengan menghambat absorpsi kolesterol di usus dan kolesterol empedu tanpa memengaruhi absorpsi nutrisi yang larut dalam lemak. Ezetimibe diindikasikan untuk pasien yang tidak toleran terhadap statin atau digunakan sebagai kombinasi dengan statin jika target penurunan LDL-C tidak tercapai dengan statin dosis maksimal yang dapat ditoleransi.1,2,3

PCSK9 inhibitor

Merupakan antibodi monoklonal yang berfungsi untuk menginaktivasi Proprotein Convertase Subtilisin/kexin Type 9 (PCKS9) yang berperan dalam proses degradasi reseptor LDL. Penghambatan ini akan meningkatkan ekspresi reseptor LDL pada hepatosit yang pada akhirnya menurunkan kadar LDL-C. Obat golongan ini diberikan melalui suntikan secara subkutan. Terdapat 2 jenis obat PCSK9 inhibitor yang sudah dipasarkan, yaitu Alirocumab (belum tersedia di Indonesia) dengan dosis 75 mg setiap 2 minggu sekali atau 300 mg setiap 4 minggu sekali dan Evolocumab (Repathaâ) dengan dosis 140 mg setiap 2 minggu sekali atau 420 mg sekali sebulan.3

Asam lemak Omega-3

Asam lemak Omega-3 atau minyak ikan mempunyai efek utama menurunkan kadar trigliserida, namun tidak mempunyai efek yang signifikan terhadap LDL-C dan HDL-C. Laporan dari penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 tidak menyebabkan penurunan risiko kardiovaskular pada pasien sindroma metabolik maupun pada pasien diabetes mellitus. Asam lemak Omega-3 dapat diberikan sebagai terapi  tambahan  diet  untuk  menurunkan  kadar  Trigliserida 500  mg/dl.1

Tabel 4. Obat hipolipidemik non-statin yang tersedia di Indonesia2,3

Golongan obatEfek terhadap lipidObatTotal dosis harian (mg/hari)FrekuensiEfek sampingKontraindikasi
Penghambat absorpsi kolesterolLDL↓ 10-18% ApoB↓ 11-16%Ezetimibe10ODUmumnya dapat ditoleransi pasienPenyakit hati, peningkatan enzim hati
Bile acid sequestrantsLDL↓ 15-30% HDL↑ 3-5% TG tidak berubahCholestyramine4000-24000OD/BIDGangguan pencernaan, flatulen, konstipasi, penurunan absorpsi obat lainAbsolut: Trigliserida >400 mg/dl Relatif: Trigliserida >200 mg/dl
PCK9 inhibitorLDL↓ 48-71% Non-HDL ↓49-58% Total kolesterol↓ 36-42% ApoB ↓ 42-55%Evolocumab140Setiap 2 mingguFaringitis, influenza, ISK, diare, mialgiaBelum ada data keamanan penggunaan jangka panjang (>3 tahun)
420Setiap 4 minggu
FibratLDL↓ 5-20% HDL ↑ 10-20% TG↓ 20-50%Gemfibrozil600BIDDispepsia, batu empedu, miopatiAbsolut: Penyakit ginjal dan hati yang berat
Fenofibrat45     –        300 (tergantung pabrik)OD
Keterangan: OD (Once Daily); BID (Bis In Die)

Terapi non-farmakologis

Intervensi gaya hidup berikut terbukti dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular:1

  • Aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti berjalan cepat, bersepeda statis, atau berenang selama 30 menit, 4-6 kali seminggu.
  • Konsumsi diet rendah kalori yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran, biji-bijian, ikan, dan daging tanpa lemak; serta pembatasan asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol.
  • Berhenti merokok. Merokok mempercepat pembentukan plak pada koroner dan dapat menyebabkan plak ruptur.

Daftar pustaka

  1. Blumenthal, R. S., et al. 2026. ACC/AHA/AACVPR/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ ASPC/NLA/PCNA Guideline on the Management of Dyslipidemia: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines, Circulation, Volume 153, Number 17.
  2. Mach, F., Et al. 2025. Focused Update of the 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: Developed by the task force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS), European Heart Journal, Volume 46, Issue 42, Pages 4359-4378.
  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 2022. Panduan Tata Laksana Dislipidemia (https://www.inaheart.org/panduan-tatalaksana-dislipidemia-2022/)
apt. Silvia Dwi Puspa Susanti S.Farm.
Artikel kesehatan dari tim RKZ Surabaya

Rekomendasi untuk Anda