Dislipidemia adalah gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol low density lipoprotein (LDL-C), trigliserida, lipoprotein (a), serta penurunan kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL-C). Dislipidemia meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerosis atau atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD) sehingga tatalaksana dislipidemia penting dilakukan sebagai upaya pencegahan primer maupun sekunder ASCVD.1,2
Aterosklerosis disebabkan oleh penumpukan progresif LDL-C dan lipoprotein lain yang mengandung apolipoprotein-B (ApoB) di dinding arteri sehingga memicu rangkaian reaksi inflamasi dan menyebabkan pembentukan plak aterosklerosis. Plak aterosklerosis dapat ruptur dan membentuk thrombus yang secara akut menghambat aliran darah dan mengakibatkan kejadian ASCVD berupa angina tidak stabil, infark miokard (MI), stroke iskemik, atau penyakit arteri perifer. Berbagai uji klinis acak menunjukkan bahwa penurunan LDL-C dapat mengurangi risiko kejadian ASCVD. 1,2
Kategori Risiko ASCVD
Identifikasi tingkat risiko merupakan langkah pertama dan utama dalam pencegahan penyakit kardiovaskular untuk menentukan target pencapaian terapi penurun lipid. Risiko kardiovaskular dikategorikan menjadi beberapa tingkat berdasarkan bukti penilaian klinis atau perhitungan risiko kardiovaskular total.
Perhitungan risiko kardiovaskular total
Terdapat beberapa metode perhitungan risiko kardiovaskular total, antara lain:
- Systematic Coronary Risk Estimation (SCORE) dari Guideline European Society of Cardiology (ESC) untuk usia 40-89 tahun (https://www.heartscore.org/en_GB#)
- The American Heart Association (AHA) PREVENT Online Calculator untuk usia 30-79 tahun (https://professional.heart.org/en/guidelines-and-statements/prevent-calculator)
- WHO Cardiovascular Disease Risk Laboratory-based Charts for Southeast Asia untuk usia 40-74 tahun (https://cdn.who.int/media/docs/default-source/ncds/cardiovascular-diseases/southeast-asia–corrected.pdf?sfvrsn=e7994290_0)
Tabel 1. Klasifikasi tingkat risiko ASCVD1,3,4
| Klasifikasi | SCORE2 atau SCORE2-OP | PREVENT ASCVD | WHO |
| Sangat tinggi | ≥20% | – | ≥30% |
| Tinggi | ≥10-<20% | ≥10% | >20-<30% |
| Menengah | ≥2-<10% | 5-10% | 10% – <20% |
| Borderline | – | 3-5% | 5% -<10% |
| Rendah | <2% | <3% | <5% |
Penilaian klinis risiko kardiovaskular
Berdasarkan Guideline ESC, selain hasil perhitungan dengan metode SCORE2 atau SCORE2-OP, bukti penilaian klinis juga menentukan tingkat kategori risiko (Tabel 2).
Tabel 2. Tingkat risiko kardiovaskular.2
| Risiko sangat tinggi | Pasien dengan salah satu kriteria berikut: Penyakit ASCVD yang terbukti secara klinis maupun pada pemeriksaan radiologia,bDiabetes Mellitus (DM) dengan kerusakan organ target (microalbuminuria, retinopathy, atau neuropathy), atau minimal 3 faktor risiko mayorc, atau DM tipe 1 lebih dari 20 tahunGagal ginjal kronik derajat berat (eGFR <30 ml/menit/1,73m2)Perhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP ≥20% Hiperkolesterolemia familial dengan ASCVD atau dengan faktor risiko mayor lainnya |
| Risiko tinggi | Pasien dengan salah satu kriteria berikut: Hasil pengukuran kolesterol total >310 mg/dl, LDL-C >190 mg/dl, atau tekanan darah ³180/110 mmHgHiperkolesterolemia familial tanpa faktor risiko mayor lainnyaDiabetes Mellitus tanpa kerusakan organ target, dengan durasi ³10 tahunGagal ginjal kronik derajat sedang (eGFR 30-59 ml/min/1,73 m2)Perhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP ≥10-<20% |
| Risiko menengah | Pasien DM usia muda (<35 tahun untuk DM tipe 1, <50 tahun untuk DM tipe 2) dengan durasi DM <10 tahun, tanpa faktor risiko lainnyaPerhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP ≥2-<10% |
| Risiko rendah | Perhitungan klasifikasi SCORE2 atau SCORE2-OP <2% |
Keterangan:
- ASCVD yang terbukti secara klinis antara lain riwayat sindrom koroner akut (infark miokard atau angina tidak stabil), angina pektoris stabil, revaskularisasi koroner (percutaneous coronary intervention (PCI), coronary artery bypass graft (CABG), atau prosedur revaskularisasi arteri lainnya), stroke atau transient ischemic attack (TIA), dan penyakit arteri perifer (peripheral artery disease/PAD).
- ASCVD yang terbukti melalui pemeriksaan radiologi berupa temuan plak signifikan pada angiografi koroner atau CT scan (multivessel coronary disease dengan stenosis >50% pada dua arteri epikardial mayor), atau pada ultrasonografi karotis.
- Faktor risiko mayor antara lain hiperkolesterolemia, hipertensi, perokok, DM, dan obesitas.
Tatalaksana Dislipidemia
Terapi farmakologi, non-farmakologi, serta pengendalian faktor metabolik seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas merupakan tatalaksana dislipidemia sebagai upaya:1
- Pencegahan primer (mencegah timbulnya komplikasi penyakit kardiovaskular).
- Pencegahan sekunder (mencegah komplikasi kardiovaskular lanjutan pada pasien yang telah menderita penyakit aterosklerosis dan kardiovaskular).

Target terapi
Target LDL-C pada pemberian terapi penurun lipid adalah sebagai berikut:1,2
- Risiko sangat tinggi (pencegahan primer dan sekunder): penurunan ≥50% dari sebelum terapi dan mencapai <55 mg/dl.
- Risiko tinggi: penurunan ≥50% dari sebelum terapi dan mencapai <70 mg/dl.
- Risiko menengah: <100 mg/dl.
- Risiko rendah: <116 mg/dl.
- ASCVD telah mendapat terapi statin dengan dosis maksimal yang dapat ditoleransi dan mengalami kejadian vaskular kedua dalam 2 tahun: <40 mg/dl.
Terapi farmakologi
Statin
Merupakan obat utama dalam tatalaksana dislipidemia yang bekerja dengan menurunkan pembentukan kolesterol di hati melalui penghambatan enzim reductase 3-hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA), menurunkan sintesis LDL-C, dan meningkatkan penyerapan LDL-C dari plasma. Selain menurunkan LDL-C, statin juga mempunyai efek meningkatkan HDL-C dan menurunkan Trigliserida.1
Statin memiliki efek pleiotropik yang berperan dalam pencegahan ASCVD karena dapat memperbaiki fungsi endotel, menghambat proses remodelling, menstabilkan plak aterosklerosis, dan menurunkan stres oksidatif serta respon inflamasi pada dinding vaskular.2
Tabel 3. Intensitas berbagai jenis dan dosis harian statin terhadap penurunan LDL-C1
| Intensitas tinggi | Intensitas menengah | Intensitas rendah | |
| Penurunan LDL-C | ≥50% | 30% – 49% | <30% |
| Statin | Atorvastatin 40 – 80 mg Rosuvastatin 20 – 40 mg | Atorvastatin 10 – 20 mg Rosuvastatin 5 – 10 mg Simvastatin 20 – 40 mg Pravastatin 40 – 80 mg Lovastatin 40 mg Fluvastatin XL 80 mg Fluvastatin 40 mg BID Pitavastatin 1 – 4 mg | Simvastatin 10 mg Pravastatin 10 – 20 mg Lovastatin 20 mg Fluvastatin 20 – 40 mg Pitavastatin 1 mg |
Statin intensitas tinggi direkomendasikan pada pasien dengan klinis ASCVD sebagai pencegahan sekunder untuk mencapai penurunan LDL-C ≥50% dan mencegah risiko kejadian ASCVD berulang. Rekomendasi pemberian terapi statin sebagai pencegahan primer ASCVDadalah sebagai berikut:1
- Statin intensitas tinggi direkomendasikan untuk pasien usia 20-75 tahun dengan LDL-C ≥190 mg/dl (≥4,9 mmol/L) tanpa menghitung risiko ASCVD.
- Statin intensitas tinggi direkomendasikan pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi (≥10%) untuk menurunkan LDL ≥50%.
- Statin intensitas tinggi sebaiknya dipertimbangkan bagi pasien DM usia 40-75 tahun dengan beberapa faktor risiko ASCVD untuk menurunkan LDL ≥50%.
- Statin intensitas menengah direkomendasikan untuk pasien DM usia 40-75 tahun tanpa menghitung risiko ASCVD.
- Statin intensitas menengah dapat direkomendasikan pada pasien dengan risiko kardiovaskular intermediate (5-10%) untuk mencapai penurunan LDL ≥30%.
Bile acid sequestrants (Colestyramine, Colestipol, Colesevelam)
Bile acid sequestrant mengikat asam empedu di usus kemudian keluar melalui tinja. Kolesterol merupakan prekursor cairan asam empedu yang diproduksi di hati. Penyerapan asam empedu di usus akan meningkatkan perubahan kolesterol hati menjadi asam empedu sehingga menurunkan kadar LDL-C darah. Bile acid sequestrant diindikasikan untuk hiperkolesterolemia tanpa hipertrigliseridemia dan direkomendasikan bagi pasien yang intoleran terhadap statin. Kombinasi statin, ezetimibe, dan bile acid sequestrant dapat dipertimbangkan bagi pasien yang tidak mencapai target LDL-C walau telah mendapat kombinasi statin intensitas tinggi dan Ezetimibe.1,2
Bile acid sequestrant dapat menyebabkan malabsorpsi vitamin yang larut dalam lemak serta menurunkan penyerapan obat bila dikonsumsi bersamaan. Oleh karena itu, vitamin larut lemak (vitamin A,D,E,K) dan asam folat serta obat dengan indeks terapi sempit seperti Digoxin, Warfarin, Tiroksin, atau Thiazid sebaiknya diminum 1 jam sebelum atau 4 jam sesudah bile acid sequestrant.3
Asam fibrat (Fenofibrat)
Fibrat adalah agonis dari peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR) a. Melalui reseptor ini, fibrat menurunkan regulasi gen apoC-III, serta meningkatkan regulasi gen ApoA-I dan A-II. Berkurangnya sintesis ApoC-III menyebabkan peningkatan katabolisme trigliserida oleh lipoprotein lipase, berkurangnya pembentukan VLDL, dan meningkatnya pembersihan kilomikron. Peningkatan regulasi ApoA-I dan ApoA-II menyebabkan meningkatnya HDL-C. Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa fibrat bermanfaat menurunkan kejadian kardiovaskular pada pasien dengan TG >200 mg/dl.1,2,3
Ezetimibe
Obat golongan ini bekerja dengan menghambat absorpsi kolesterol di usus dan kolesterol empedu tanpa memengaruhi absorpsi nutrisi yang larut dalam lemak. Ezetimibe diindikasikan untuk pasien yang tidak toleran terhadap statin atau digunakan sebagai kombinasi dengan statin jika target penurunan LDL-C tidak tercapai dengan statin dosis maksimal yang dapat ditoleransi.1,2,3
PCSK9 inhibitor
Merupakan antibodi monoklonal yang berfungsi untuk menginaktivasi Proprotein Convertase Subtilisin/kexin Type 9 (PCKS9) yang berperan dalam proses degradasi reseptor LDL. Penghambatan ini akan meningkatkan ekspresi reseptor LDL pada hepatosit yang pada akhirnya menurunkan kadar LDL-C. Obat golongan ini diberikan melalui suntikan secara subkutan. Terdapat 2 jenis obat PCSK9 inhibitor yang sudah dipasarkan, yaitu Alirocumab (belum tersedia di Indonesia) dengan dosis 75 mg setiap 2 minggu sekali atau 300 mg setiap 4 minggu sekali dan Evolocumab (Repathaâ) dengan dosis 140 mg setiap 2 minggu sekali atau 420 mg sekali sebulan.3
Asam lemak Omega-3
Asam lemak Omega-3 atau minyak ikan mempunyai efek utama menurunkan kadar trigliserida, namun tidak mempunyai efek yang signifikan terhadap LDL-C dan HDL-C. Laporan dari penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 tidak menyebabkan penurunan risiko kardiovaskular pada pasien sindroma metabolik maupun pada pasien diabetes mellitus. Asam lemak Omega-3 dapat diberikan sebagai terapi tambahan diet untuk menurunkan kadar Trigliserida 500 mg/dl.1
Tabel 4. Obat hipolipidemik non-statin yang tersedia di Indonesia2,3
| Golongan obat | Efek terhadap lipid | Obat | Total dosis harian (mg/hari) | Frekuensi | Efek samping | Kontraindikasi |
| Penghambat absorpsi kolesterol | LDL↓ 10-18% ApoB↓ 11-16% | Ezetimibe | 10 | OD | Umumnya dapat ditoleransi pasien | Penyakit hati, peningkatan enzim hati |
| Bile acid sequestrants | LDL↓ 15-30% HDL↑ 3-5% TG tidak berubah | Cholestyramine | 4000-24000 | OD/BID | Gangguan pencernaan, flatulen, konstipasi, penurunan absorpsi obat lain | Absolut: Trigliserida >400 mg/dl Relatif: Trigliserida >200 mg/dl |
| PCK9 inhibitor | LDL↓ 48-71% Non-HDL ↓49-58% Total kolesterol↓ 36-42% ApoB ↓ 42-55% | Evolocumab | 140 | Setiap 2 minggu | Faringitis, influenza, ISK, diare, mialgia | Belum ada data keamanan penggunaan jangka panjang (>3 tahun) |
| 420 | Setiap 4 minggu | |||||
| Fibrat | LDL↓ 5-20% HDL ↑ 10-20% TG↓ 20-50% | Gemfibrozil | 600 | BID | Dispepsia, batu empedu, miopati | Absolut: Penyakit ginjal dan hati yang berat |
| Fenofibrat | 45 – 300 (tergantung pabrik) | OD |
Terapi non-farmakologis
Intervensi gaya hidup berikut terbukti dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular:1
- Aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti berjalan cepat, bersepeda statis, atau berenang selama 30 menit, 4-6 kali seminggu.
- Konsumsi diet rendah kalori yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran, biji-bijian, ikan, dan daging tanpa lemak; serta pembatasan asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol.
- Berhenti merokok. Merokok mempercepat pembentukan plak pada koroner dan dapat menyebabkan plak ruptur.
Daftar pustaka
- Blumenthal, R. S., et al. 2026. ACC/AHA/AACVPR/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ ASPC/NLA/PCNA Guideline on the Management of Dyslipidemia: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines, Circulation, Volume 153, Number 17.
- Mach, F., Et al. 2025. Focused Update of the 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: Developed by the task force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS), European Heart Journal, Volume 46, Issue 42, Pages 4359-4378.
- Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 2022. Panduan Tata Laksana Dislipidemia (https://www.inaheart.org/panduan-tatalaksana-dislipidemia-2022/)