Mengenal dan Mencegah Stunting

Farmakokinetika Pada Geriatri
December 26, 2023
Dislipidemia dan Pengobatannya
February 22, 2024

Balita stunting atau kerdil akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama masih menjadi permasalahan di Indonesia. Tidak hanya berdampak buruk pada pertumbuhan fisik, stunting juga mengganggu perkembangan otak dan kecerdasan anak.

Apa itu Stunting? 1–4

Stunting adalah kondisi anak pendek akibat nutrisi yang tidak adekuat dan infeksi berulang, ditandai dengan tinggi/panjang badan anak menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO (World Health Organization).

Apakah semua balita pendek pasti Stunting?5

Tidak, balita pendek dikenal dengan istilah stunted, yaitu balita dengan panjang badan atau tinggi badan menurut usianya kurang dibandingkan dengan standar baku WHO. Selain stunting, anak pendek dapat disebabkan oleh faktor keturunan, gangguan kromosom atau hormonal. Kondisi stunting atau stunted harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter.

Mengapa bisa terjadi stunting pada balita? 2–4

Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan stunting. Stunting diawali dengan kenaikan berat badan balita yang tidak adekuat, jika tidak segera ditangani secara optimal akan memperlambat laju pertumbuhan dan berlanjut menjadi stunting.

Saat kehamilan

Kesehatan dan nutrisi Ibu yang buruk selama kehamilan. Pemenuhan nutrisi yang tidak mencukupi akan membatasi pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko kematian bayi baru lahir.

Begitu juga dengan ibu yang mengalami gangguan kesehatan, seperti infeksi malaria, HIV/AIDS, atau penyakit kronis lainnya. Ibu dengan hipertensi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan kelahiran prematur.

Saat Bayi Lahir

Tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) yang cukup.

Balita sebaiknya mendapatkan ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan hingga berusia 2 tahun. ASI eksklusif merupakan pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain, kecuali obat.6 Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, ASI juga bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar anak tidak mudah terserang penyakit.

Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang buruk.

Memasuki usia 6 bulan, balita membutuhkan lebih banyak energi dan nutrisi yang sudah tidak dapat dipenuhi oleh ASI. Jarang memberikan makanan, pemilihan makanan yang terlalu encer atau tidak bernutrisi, serta porsi yang kurang akan menyebabkan balita kekurangan nutrisi.

Mengalami infeksi dan/atau penyakit kronis

Infeksi seperti diare, pneumonia, malaria, dan kecacingan diketahui menghambat pertumbuhan anak. Infeksi dan penyakit kronis dapat menyebabkan gangguan pada asupan, penyerapan atau pemanfaatan zat gizi anak.

Apakah stunting berbahaya? 2,3

Kondisi stunting yang tidak segera ditangani dalam 1000 hari pertama kehidupan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anak dengan status nutrisi yang buruk lebih berisiko mengalami infeksi dan penyakit. Anak stunting juga lebih berisiko mengalami penyakit kronis di kemudian hari, seperti diabetes, penyakit jantung dan kanker bila mengalami peningkatan berat badan yang cepat setelah usia 2 hingga 3 tahun.

Selain berdampak pada tinggi badan, stunting juga mengganggu perkembangan otak dan kecerdasan. Anak stunting akan mengalami kesulitan untuk belajar, memahami informasi baru, dan menjadi kurang berprestasi di sekolah.

Lalu, bagaimana cara mencegah stunting? 3,7–10

Stunting dapat dicegah mulai dari persiapan kehamilan, saat hamil, dan perawatan saat bayi telah lahir. Seribu hari pertama kehidupan bayi yang dimulai sejak konsepsi (pembuahan) merupakan masa emas karena mayoritas pertumbuhan dan perkembangan otak terjadi pada usia tersebut.

Persiapan Kehamilan

Pemberian zat besi dimulai sejak remaja untuk mencegah anemia. Remaja wanita dengan anemia akan berdampak pada kesehatan dan nantinya akan berisiko anemia saat menjadi ibu hamil yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin. Oleh karena itu, tablet tambah darah harus diminum secara teratur satu tablet setiap minggu.

Pemberian asam folat juga diperlukan dalam persiapan kehamilan. Semua wanita usia reproduktif disarankan mengonsumsi asam folat 400 mcg/hari untuk mencegah kecacatan otak dan tulang belakang bayi.

Selain calon Ibu, calon Ayah juga harus mempersiapkan diri sebelum masa pra-konsepsi dengan cara menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan yang sehat, berhenti merokok, tidak mengonsumsi alkohol, dan menghindari paparan bahan kimia berbahaya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan bayi.

Saat Kehamilan

Pemenuhan Nutrisi Ibu Saat Hamil

Nutrisi yang baik selama kehamilan sangat penting dalam mencegah anak stunting. Stunting saat kelahiran dapat terjadi akibat ibu mengalami gizi buruk dan anemia. Pemberian nutrisi optimal, mengonsumsi suplemen zat besi dan asam folat, mengatasi kekurangan iodium dan kecacingan, serta mencegah penyakit infeksi sangat berperan untuk mencegah stunting.

Pemberian Zat Besi (Fe) dan Asam Folat  direkomendasikan oleh WHO untuk mengurangi risiko berat badan lahir rendah, anemia pada ibu, dan kekurangan zat besi. Dosis Zat Besi yang disarankan adalah elemental Fe 30-60 mg/hari, ibu disarankan mengonsumsi minimal 90 tablet tambah darah selama kehamilan. Hindari pemberian suplemen Fe bersama dengan teh, kopi, telur, susu, obat sakit maag dan tablet kalsium karena dapat menurunkan penyerapan zat besi.13,14 Dosis Asam Folat yang disarankan adalah 400 mcg/hari. Dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada kondisi tertentu.11–13

Setelah Kelahiran Bayi

Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian ASI merupakan cara yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan mencegah stunting. Bayi sebaiknya mendapatkan ASI dalam 1 jam pertama setelah lahir hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun.15,16 Namun, penting bagi ibu untuk memperhatikan nutrisi selama menyusui agar menghasilkan ASI yang berkualitas.

Pemberian MPASI

Ketika memasuki usia 6 bulan, pemberian ASI harus dikombinasi dengan MPASI. Balita membutuhkan nutrisi, seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral untuk membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Berilah makanan yang bervariasi, berkualitas dan dalam jumlah yang tepat. Contoh: biji-bijian, telur, unggas, ikan, daging, produk susu, buah dan sayuran.

Pemberian Suplemen

Suplementasi Zat Besi (bila diperlukan), Vitamin A, dan obat cacing dapat melindungi balita dari penyakit dan anemia yang dapat mengganggu tumbuh kembang mereka.

Pemberian Vitamin A merupakan salah satu program Pemerintah untuk mencegah gangguan pada mata akibat kekurangan Vitamin A yang diadakan 2 kali dalam setahun. Pada bayi usia 6-11 bulan Vitamin A diberikan dengan dosis 100.000 SI, sedangkan pada balita usia 12-59 bulan diberikan 200.000 SI. Pemberian Vitamin A dapat dilakukan di Posyandu (Pos layanan terpadu).17

Selain itu, pemberian obat cacing biasanya diberikan bersamaan dengan pembagian Vitamin A. Obat cacing yang digunakan untuk pencegahan adalah Albendazole atau Mebendazole dalam bentuk sediaan tablet kunyah dan sirup. Dosis Albendazole untuk anak usia >2 tahun hingga dewasa adalah 400 mg dosis tunggal, sedangkan anak usia 1-2 tahun diberikan 200 mg dosis tunggal. Mebendazole untuk pencegahan digunakan dengan dosis 500 mg 1 kali pemberian.18

Monitoring Perkembangan Bayi

Monitoring pertumbuhan dan perkembangan bayi, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan sangat penting untuk mencegah dan mendeteksi dini bila terdapat gangguan pertumbuhan. WHO merekomendasikan pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan, serta lingkar kepala untuk bayi dan anak, terutama di bawah usia 5 tahun.

Ayah dan Ibu dapat memantau pertumbuhan anak melalui KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dapat diperoleh di Puskesmas atau menggunakan layanan KMS online dengan mengakses link berikut https://www.kms-online.web.id/index.php.

Tidak hanya melakukan pencatatan, Ayah dan Ibu harus berperan aktif dan mengetahui hasil interpretasi dari pola pertumbuhan setelah pengukuran. Semakin cepat terdeteksi, maka hasil dari penanganan gangguan pertumbuhan dapat semakin maksimal, sehingga bisa mencegah terjadinya dampak negatif jangka panjang.

Apa yang harus dilakukan bila balita dicurigai stunting?

Bila terdapat kecurigaan stunting atau gangguan pertumbuhan, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan atau dapat menemui dokter tumbuh kembang.

Ayah dan Ibu juga dapat memanfaatkan Layanan Konsultasi Tumbuh Kembang RKZ Surabaya, untuk informasi Reservasi Klinik dapat menghubungi WA 081916007300.

Pemberian nutrisi seimbang, mengobati infeksi, menjaga kebersihan, dan memberi kesempatan anak untuk belajar, serta berinteraksi sosial merupakan faktor yang dapat membantu anak mencapai potensi pertumbuhan mereka.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program prioritas pemerintah dalam percepatan penurunan stunting pada balita, RKZ Surabaya memiliki Tim Pencegahan Stunting dan Wasting (TPSW) yang aktif melakukan penyuluhan baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Mari kita wujudkan bersama Indonesia bebas stunting!

Referensi:

1.         World Health Organization (WHO). Malnutrition. https://www.who.int/health-topics/malnutrition#tab=tab_1 (2023).

2.         World Health Organization (WHO). Stunting in a nutshell. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell (2015).

3.         Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 100 Kabupaten/Kota Prioritas Untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). (2017).

4.         Tim TPSW RKZ Surabaya. Pedoman dan Penanggulanan Stunting dan Wasting. (2022).

5.         Wardoyo, H. Stunted dan Stunting. BKBN https://www.kms-online.web.id/index.php (2021).

6.         Sembiring, T. ASI Eksklusif. Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1046/asi-eksklusif (2022).

7.         Why 1,000 Days. HI 360 https://thousanddays.org/why-1000-days/.

8.         Suchianti, A. Cara Mencegah Stunting dari Berbagai Pihak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-mencegah-stunting-dari-berbagai-pihak (2023).

9.         Unicef. Stop stunting in South Asia – Part 2. https://www.unicef.org/rosa/stories/stop-stunting-south-asia-part-2 (2018).

10.       Government, A. Preconception health for men. Healthdirect Australia Limited Ancybirthbaby.org.au/preconception-health-for-men (2023).

11.       World Health Organization. Antenatal iron supplementation. https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/antenatal-iron-supplementation (2024).

12.       Center for Disease Control and Prevention. Folic Acid. https://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/about.html.

13.       Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Ibu Hamil. (2020).

14.       Wolters Kluwer Clinical Drug Information, Lexicomp Application ver 7.3.3 Production. (2023).

15.       Sirajuddin, Asbar, R., Nursalim & Tamrin, A. Breastfeeding practices can potential to prevent stunting for poor family. Enferm. Clin. 30, (2020).

16.       Hadi, H., Fatimatasari, F., Irwanti, W. & Kusuma, C. Exclusive Breastfeeding Protects Young Children from Stunting in a Low-Income Population: A Study from Eastern Indonesia. Nutrients 13, (2021).

17.       Abidah, S. Pemberian Vitamin A Rutin: Cegah Penyakit, Jaga Kesehatan Anak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia https://ayosehat.kemkes.go.id/pemberian-vitamin-a-rutin-cegah-penyakit-jaga-kesehatan-anak (2023).

18.       Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan. (2017).

Baca juga: Keamanan Obat pada Ibu Hamil https://rkzsurabaya.com/2023/09/25/keamanan-obat-pada-ibu-hamil-2/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *